The Result

by - April 09, 2009


Saya agak berat berkomentar soal ini. Jadi maaf kalo banyak tulisan yang menyimpang kesana kemari...


Ceritanya begini. Kemarin pagi sekitar jam 3, saya dikasih tau Adityo kalau pengumumannya baru keluar jam 10 pagi. Oke, bagus sekali, jadi saya melihat hasilnya di sekolah bareng teman-teman.. Sesuatu yang sebenarnya antara pengen dan nggak saya harapkan.

Menjelang jam 10, anak-anak mulai berisik, "Ayo ca, buka hasilnya." "Ayo ca, gw yang penasaran nih." "Ca, gw yang bukain deh kalau lo nggak berani." dsb, dsb.
Hey, you don't know how hard it was when you really, really want something and you failed to reach it - dan semua orang yang berharap lo berhasil melihat lo gagal.

Bukannya saya pesimis. Malah saya udah mengkhayal bakal sujud syukur kalau diterima *sigh* Tapi kemungkinan gagal kan selalu ada.. dan saya nggak mau semua orang membaca tulisan yang di atas itu. It's okay kalau cuma Hanna, Ichal, Angga dan orang-orang yang saya tau, nggak akan terlihat kecewa, tapi malah besimpati buat saya.

Jadi saya akhirnya naik ke lantai 3 bersama orang-orang senasib sepenanggungan untuk melihat takdir masing-masing haha. Sayangnya, ternyata ITB mengundurkan pengumumannya jadi jam 2 siang dikarenakan terlalu banyak pengunjung (masa sih?). Ada yang udah sempet liat hasilnya seperti Ronny. He made it to FITB.... padahal dia baru verifikasi ITS ke Surabaya.

Jam setengah 2, saya baru selesai makan di kantin waktu Angga telpon. Katanya, hasilnya udah keluar. Saya sama Astin langsung ngibrit ke atas. Di tangga kita papasan sama Tata yang bikin kita berdua langsung down ngeliat mukanya. Eh, sebentar. Saya nggak down sih. Perasaan saya jadi kayak waktu UI aja. FLAT. Saya nggak merasakan apapun.

Berikutnya kita ketemu Angga di depan lab komputer, terus langsung masuk ke lab dan menemui kenyataan berupa tulisan di atas.

Saya menunggu reaksi itu. Tapi nggak, saya nggak menangis. Padahal saya sadar seberapa inginnya saya masuk ITB. Tapi tetep aja nggak ada reaksi emosional, cuma seperti biasa, saya lemas. It happenned everytime i should cry, but i can't. Mama bilang itu penyaluran emosi saya ke fisik. Saya juga nggak tahu kenapa emosi saya nggak dikeluarin aja biar badan saya nggak perlu menanggung rasa sedih.

Setelah melihat hasil, saya keluar, Angga masih di situ sendirian. Saya duduk di sebelahnya terus bilang kalau saya juga nggak diterima. Sepertinya dia juga menunggu reaksi saya, tapi waktu saya merasa mulai mau nangis Hanna tiba-tiba keluar dan lho kok malah dia yang nangis?? Kayaknya emosi saya salah saluran nih, keluarnya malah lewat sahabat saya haha. That's what i called true bestfriend :')

Saya masih belajar bareng sebelum BP. I prefer to stay at school than going home. Di rumah saya akan bertemu keluarga saya yang nggak mungkin nggak bikin saya menangis. Simpati mereka itu nyata banget, melihat muka Bayu aja bisa membuat saya menangis. Tapi saya akhirnya memberitahu kegagalan saya juga - pertama sama Papa di jalan. Kedua sama Bayu di kamar. Ketiga sama Mama. Yang terakhir ini saya langsung meledak deh, haha. Meskipun sampai sekarang saya belum benar-benar lega menangisnya karena semalem terlalu capek untuk nangis, tapi di liburan ini saya masih boleh nangis kok. Habis libur saya baru harus bener-bener konsen dan move on...

Masih ada PMBP-ITB terpusat. Masih ada hasil UNDIP tanggal 25 April, masih ada SMUP, masih ada SNMPTN.
There are so many opportunity for you, so you're not allowed to give up now! :)

You May Also Like

0 komentar