Bad negative mood - How to remove it?

14.08.00

Saya akan menceritakan apa yang gw pikirkan akhir-akhir ini. Tepatnya hal ini membuat saya kepikiran secara tidak sadar, membuat saya malas, stres, pokoknya menebarkan emosi negatif dan menghilangkan semangat yang susah payah saya bangun.

Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan buat saya dengan memberikan TL UNDIP. Sementara ITB buat saya adalah mimpi – sesuatu yang rasanya jauh banget, tapi bakal selalu saya kejar. Dan saya berharap akhirnya saya akan sampai tepat waktu.

Tapi mimpi (mimpi asli, yang gw alamin waktu tidur) mengatakan tempat saya bukan di situ. Yah, saya sudah nggak tahan lagi nyimpen kenangan mimpi ini sendirian – jadi mimpi itu bilang, “Udahlah ca, nggak usah ngejar ITB lagi, tempat lo bukan di situ.”

Waktu bangun, saya shock. Itu bener-bener cuma mimpi yang nggak penting atau itu emang petunjuk bahwa saya nggak worth it for ITB?

Mungkin lo akan bilang, nggak usah peduliin mimpi ca, semua itu tergantung usaha lo bukan tergantung mimpi. Oke, awalnya saya juga berpikir begitu. Sampai suatu hari, saya ngobrol sama Mama. Beliau menanyakan:
Apakah saya siap kuliah di UNDIP,
Pilih mana UNDIP atau UNPAD kalau saya diterima, dan
Kalau ITB sama UNDIP pasti milih ITB kan?

Saya hanya akan menjabarkan jawaban pertanyaan terakhir aja. 
Saya bilang, “Tergantung ITB nya fakultas apa.”
Dan Mama kaget. Beliau mengira saya pasti akan memilih ITB, entah itu FTSL, SITH, atau FMIPA. Yang penting udah diterima di ITB.

Saya bilang, saya mencari fakultas Teknik Lingkungan, kalaupun ada cadangan di ITB, jujur buat saya itu cuma pemantes aja. Kenapa? Karena sejujurnya saya nggak sebegitu tertariknya untuk kuliah di bidang itu. Sementara kalau saya milih FTI, di mana Teknik Kimia ITB bernaung, passing grade nya jauh di atas FTSL. Dan saya mengukur kemampuan saya – atau tepatnya membatasi pilihan berdasarkan kemampuan saya. Mungkin lo nggak tau kalau nggak mencoba. Tapi toh saya sudah pernah mencoba dan saya di suggest untuk milih FMIPA, di mana hal itu membuat saya menurunkan standar pilihan jurusan.

Saya bilang ke Mama, “Orang kan nggak ngeliat dari universitas mana, yah mungkin itu pertimbangan, tapi basically semua tergantung kemampuan orang itu juga kan?”
Mama: “Nah, itu dia yang terjadi di negara kita.”
Saya sudah mau bersyukur di dalam hati (ternyata saya nggak naif-naif amat) ketika ternyata Mama meneruskan, “Kalau ada perekrutan kerja, yang pertama dilihat adalah kamu lulusan dari universitas mana. Tetep masih ada tes, tapi lulusan ITB dan UI terutama, udah di mark sama mereka karena punya nilai plus sendiri.”
Ternyata maksud Mama pikiran saya itu salah – setidaknya buat sebagian besar orang-orang negara kita.

Indonesia adalah negara yang aneh. Buat para petinggi di negara tercinta ini, nepotisme masih ada, dan akan selalu ada. Bos lo orang ITB? Yang jadi manajer-manajernya ya orang lulusan ITB semua. Atau atasan lo orang UI? Jangan harap naik pangkat dengan cepat kalau lo bukan lulusan UI.

Sekarang tau kenapa saya jadi males? Karena gara-gara statement Mama itu, saya mikir, buat apa lo belajar capek-capek kalau toh nantinya semua didominasi nepotisme?

Mungkin mood saya yang salah mengartikan statement Mama. Buat sebagian orang, statement kayak gitu malah bisa memacu semangat mereka buat mendapatkan apa yang mereka mau. Tapi nggak buat  saya. Setelah mimpi yang bikin sakit hati ditambah cerita nyokap, rasanya saya jadi males ngapa-ngapain. Gw nggak fokus belajar, parahnya lagi bukan nggak fokus tapi nggak niat.

Is there anybody can help me out from this situation?

You Might Also Like

3 comments

  1. Gw ga setuju sama nyokap lo
    Iya, bener banget ada yang namanya keuntungan universitas itu

    Tapi ca, misalnya lo diterima di jurusan yang lo gak suka, meski itu ITB ato UI, lo pikir lo bakal sukses?

    Lo pengen teknik lingkungan, dan lo dapet di UNDIP. UNDIP itu sendiri udah bagus kan? Lo seriusin di situ, lo dapet IP bagus, otomatis temen2 lo tau lo berkualitas dan ga bisa dianggap remeh. Orang-orang tau lo bagus, lo akan mulai direkomendasikan orang-orang pas lo nyari kerja, dsb dsb. Lo bisa sukses, dan lo ga ada beban belajar karna lo milih jurusan yang lo suka, lo minati

    Tapi misal, lo keterima di ITB, di jurusan ecek-ecek. Yah, ga ecek-ecek juga sih, katakan lah jurusan yang passing gradenya lebih rendah dari Teknik Lingkungan ITB. Trus lo ga begitu minat masuk ke situ. Lo ga suka. Lo ga bisa belajar kecuali dipaksain. Lo lulus apa adanya, lo biasa-biasa aja, karna gw bilang lo bakal kalah ama orang yang serius di jurusan itu. Lalu, lo cari kerja, meski lo bawa nama besar universitas di CV lo, tapi lo akan segera terbukti ga kompeten. Kalaupun lo dapet tuh kerjaan, lo bakal kerja di bidang yang lo kurang suka, dan ga menutup kemungkinan seumur hidup lo nyeselin pilihan lo karna lo ga milih FTI

    emang Ca, mungkin lo bakal dianggap remeh awalnya karna lo bukan dari universitas ITB/UI. Tapi itu cuma sekarnag. Faktanya, banyak yang sukses di dunia ini padahal mereka bukan dari sekolah bagus. Dan kalau lo mau fakta lainnya, orang ITB dan UI yang nganggur juga banyak banget. Yah, itu dia, kebanggaan di awal, pada akhirnya Ca, ITB dan UI cuma nama. Yang hebat adalah lo, bukan orang lain. Dosen ga semuanya bagus. Sahabat gw di ITB ngaku, dosen sampah juga bejibun. Yang penting itu individual, bukan nama almamater, bukan dosen, dsb dsb

    kayak sekolah aja, SMA 8 dan SMA 81 bagus karna muridnya, bukan karna gurunya(yang notabennya gaji buta juga banyak). SMA Al-Azhar Kemang jelek karna muridnya, bukan karna gurunya(yang notabennya bekerja keras untuk murid)

    yah, itu pendapat gw, terserah lo dalam menyikapinya. Semoga membantu :)

    BalasHapus
  2. hahuahua gw ngomen kaya bikin post hauahuah

    BalasHapus
  3. jadi bener ya semuanya tergantung usaha? karena gw jadi negatif gara-gara gw pikir semuanya diatur sama nepotisme yang mengatasnamakan universitas -.- mungkin emang harusnya pilihan itu berdasarkan jurusannya ya bukan universitasnya (dan passing gradenya). gw mungkin bisa jadi scientist atau apa di FMIPA tapi gw nggak mau kehilangan cita2 yang insya allah bisa gw dapetin kalau masuk TL.. makasih bgt buat advice nya dhin, gapapa kok pnjg bgt haha :)

    BalasHapus