Faith & Trust

by - Juni 03, 2009

Kadang saya memang suka memikirkan hal-hal yang nggak penting saat nggak ada kerjaan.

Dan hari ini yang mengisi pikiran saya (selain imajinasi tentang Breaking Dawn yang sedang saya baca) adalah tentang rasa percaya.. dan apa yang menimbulkannya, juga apa yang menghilangkannya.

Ada aja orang yang kalian anggap teman baik, sahabat, tapi ternyata dia membuat kalian sakit hati - meskipun itu bukan mau dia. Mungkin itu nggak bisa disebut berkhianat atau apa, tapi harga sebuah kepercayaan itu mahal. Meskipun dia nggak bersalah, ada aja rasa enggan, rasa segan... dan itu mengubah cara pandang kalian terhadap orang yang tadinya kalian anggap sebagai sahabat.

Ada lagi orang yang sangat kalian sayang, sampai kalian nggak tahu apa alasan konkret kalian sampai bisa sesayang itu sama dia - yang selama ini juga sayang sama kalian. Lalu tiba-tiba aja, dia hilang. Beberapa kali sampai kalian capek dan rasanya nggak ada apapun yang kalian rasakan tersisa buat dia. Singkatnya, mati rasa. Seseorang yang kalian sayang, kalian percaya, dan ternyata kepercayaan itu nggak menghasilkan apa yang kalian harapkan.

Dari pikiran-pikiran gw itu, saya menyimpulkan bahwa kepercayaan punya hubungan sama kesetiaan. Dua-duanya saling menimbulkan sebab akibat. Kalau satunya hilang, maka hilang juga yang satunya lagi.

Yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya menimbulkan kepercayaan, kesetiaan yang sama setelah hilang? Biasanya, selalu aja ada pikiran-pikiran negatif seperti 'dulu juga begini, dan akhirnya tetap begitu'. Gimana caranya pikiran positif bisa menutupi pikiran negatif itu?

Saya penasaran sama orang yang bisa memberi banyak kesempatan untuk pikiran positif masuk lagi ke kepalanya, ke perasaannya setelah dikecewakan. Malah setelah beberapa kali kecewa, mungkin. Saya sempat berpikir, sama nggak ya kayak orang yang usahanya gagal berkali-kali? Setelah mikir-mikir, menurut saya hasil usaha adalah hasil kita sendiri. Jadi satu-satunya yang harus dibangun kembali setelah gagal adalah kepercayaan kepada diri kita. Saya membayangkan itu nggak sesulit membangun kepercayaan untuk orang lain.. atau sama aja?

Buat saya segala sesuatu yang udah rusak butuh proses untuk kembali betul. Walau, adakah sebenarnya kesetiaan dan kepercayaan yang telah hilang lalu kembali benar-benar utuh seperti sebelumnya?

You May Also Like

0 komentar