Faith & Trust

Kadang gw memang suka memikirkan hal-hal yang nggak penting waktu gw nggak ada kerjaan.

Dan hari ini yang mengisi pikiran gw (selain imajinasi tentang Breaking Dawn yang sedang gw baca) adalah tentang rasa percaya.. dan apa yang menimbulkannya, juga apa yang menghilangkannya.

Ada aja orang yang lo anggap teman baik, sahabat, tapi ternyata dia membuat lo sakit hati - meskipun itu bukan mau dia. Mungkin itu nggak bisa disebut berkhianat atau apa, tapi harga sebuah kepercayaan itu mahal. Meskipun dia nggak bersalah, ada aja rasa enggan, rasa segan... dan itu mengubah cara pandang lo terhadap orang yang tadinya lo anggap sebagai sahabat.

Ada lagi orang yang sangat lo sayang, sampai lo nggak tau apa alasan konkret lo sampai bisa sesayang itu sama dia - yang selama ini juga sayang sama lo. Lalu tiba-tiba aja, dia hilang. Beberapa kali sampai lo capek dan rasanya nggak ada apapun yang lo rasakan tersisa buat dia. Singkatnya, mati rasa. Seseorang yang lo sayang, lo percaya, dan ternyata kepercayaan itu nggak menghasilkan apa yang lo harapkan.

Dari pikiran-pikiran gw itu, gw menyimpulkan bahwa kepercayaan punya hubungan sama kesetiaan. Dua-duanya saling menimbulkan sebab akibat, seperti misalnya, lo bisa percaya karena sahabat lo setia dan lo setia karena lo percaya sama sahabat lo. Kalau salah satunya hilang, maka hilang juga yang satunya lagi.

Yang gw pikirkan adalah gimana caranya menimbulkan kepercayaan, kesetiaan yang sama setelah hilang? Biasanya, selalu aja ada pikiran-pikiran negatif seperti 'dulu juga begini, dan akhirnya tetap begitu'. Gimana caranya pikiran positif bisa menutupi pikiran negatif itu?

Gw penasaran sama orang yang bisa memberi banyak kesempatan untuk pikiran positif masuk lagi ke kepalanya, ke perasaannya setelah dikecewakan. Malah setelah beberapa kali kecewa, mungkin. Gw sempet berpikir, sama nggak ya kayak orang yang usahanya gagal berkali-kali? Setelah mikir-mikir, menurut gw hasil usaha adalah hasil kita sendiri. Jadi satu-satunya yang harus dibangun kembali setelah gagal adalah kepercayaan kepada diri kita. Gw membayangkan itu nggak sesulit membangun kepercayaan untuk orang lain.. atau sama aja?

Buat gw segala sesuatu yang udah rusak butuh proses untuk kembali betul, utuh seperti seharusnya. Tapi sebenernya ada nggak sih yang bisa kembali secara instan? Jujur deh, gw heran aja kenapa mostly cowok-cowok mikirnya terlalu logika sampai kesannya instan banget? Haha, jadi curcol :p

Intinya sih gw masih memikirkan tentang itu sekarang. Kepercayaan, dan bagaimana orang-orang menyikapinya.. juga gimana kira-kira reaksi dan keputusan gw akhirnya, hahah.

See you next post.

Share:

0 comments