Avatar

Hari ini saya nonton Avatar sama Hanna, Ninis, dan Silvi. Tapi kali ini saya nggak mau bahas jalannya, saya mau bahas filmnya.

Semua orang bilang Avatar keren, efeknya hebat, dsb, dsb. Papa, yang nggak tertarik sama film sci-fi, bilang Avatar cuma film khayal (padahal beliau belum nonton :p). Tapi buat saya, Avatar lebih dari sekedar film dengan efek hebat atau film dengan daya khayal tinggi. Film ini langsung mengingatkan saya tentang lingkungan, dan dari pemikiran ini, saya tahu rasa cinta lingkungan saya semakin dalam.

Kenapa manusia sepertinya tercipta untuk merusak?

Saya lebih suka melihat alam liar tanpa campur tangan manusia.
Kadang kebutuhan manusia untuk meneliti, mencari hiburan, menjadi awal dari sebuah kerusakan alam. Kenapa manusia tidak bisa melihat dan menikmati saja, teliti seperlunya, dan membiarkan alam itu tetap seperti sedia kala?

Jujur, saya ini lebay kalau nonton film. Film action, terutama. Nggak akan bisa diem selama nonton, panik sendiri berasa ikut main film. Dan saya juga emosional. Jadi, setelah berpanik-panik ria karena orang-orang pandora nggak nurut disuruh pindah, saya langsung melotot melihat pemboman pohon oleh marinir-marinir jahat itu.

Semua orang pasti mengasihani penduduk pandora dan mengutuk si papa naga marinir berpipi gores tiga karena itu. Saya juga mengutuk si papa naga. Karena dia membom sebuah pohon superbesar yang sangat indah sekali dan saya yakin sudah berdiri ribuan tahun! Yah, selain kasihan sama penduduk juga tentunya. Tapi saya sudah miris banget sejak melihat buldoser kuning itu berjalan melindas pohon arwah. Lagi-lagi, bukan karena kekuatan spiritual atau apa, tapi karena itu adalah pohon. Dan habitatnya, hutan, ikut dibakar, dilindas, dengan seenaknya tanpa perasaan.

Tapi sebenarnya sih dibalik usaha para marinir itu, saya tahu, ada dalangnya. Ada alasan kenapa manusia datang ke pandora. Dan alasannya adalah batu aneh yang katanya satu kilonya bernilai 2 milyar. Si pemain golf menyebalkan bernama Parker itulah dalangnya, mata duitan yang menghancurkan alam, menghancurkan kehidupan para Na'vi (penduduk pandora) demi batu-batu 2 milyar itu. Makanya, seandainya Parker lebih sering muncul, saya pasti akan lebih membenci dia daripada si Papa naga (namanya Colonel Miles, tapi nama itu terlalu bagus buat orang seperti dia -.-).

Oke, ini sudah terlalu dalam, padahal ini cuma film loh ca. Itulah yang gw coba ingatkan ke diri sendiri selama nonton, karena rasanya gw udah pengen kabur kesana aja nimpuk si marinir menyebalkan itu, haha.

Dalam kehidupan nyata, saya rasa banyak sekali terjadi hal yang sama seperti di film. Kerusakan alam dan kekejaman sosial demi uang yang menguntungkan satu pihak, sudah nggak asing lagi, bahkan untuk saya yang jarang nonton TV ini.

People, kita hidup di atas tanah milik Bumi, bernafas dari udara yang berputar di Bumi, makan dan minum dari semua yang ada di Bumi. Tolong pikirkan tempat tinggal kita ini ya sebelum kalian melakukan sesuatu. Saya tahu, manusia butuh alam dan kekayaannya. Tapi jagalah jangan sampai rusak, hilang tak berbekas. Karena semua yang kita lakukan di bumi sifatnya timbal balik: apa yang sudah kita lakukan, akan dikembalikan ke kita suatu hari nanti.


Btw, here is some pictures from the movie:


(Ada yang punya gambar pohon terbakar dan hutan yang super keren di malam hari itu nggak? :))


And this is me and my girls. We had a great time :)

Share:

2 comments

  1. NAAAAIIIS Ica bener2 peduli lingkungan ya haha

    btw temen gw ada yang mau muntah nonton Avatar. Gak tahan dia takut orientasi sexnya berubah liat orang jatuh cinta sama Alien hehe

    BalasHapus
  2. hahaha iya nih dhin makin lama di itb mindset gw makin lingkungan banget. wah ada aja orang mikir kesitu ya ckckck XD

    BalasHapus