Choose Your Own Life Path

15.57.00

Hai! Sebelumnya, selamat menikmati layout baru. Sebenarnya saya kurang suka sama backgroundnya yang ga bisa saya fix-in, membuat agak pusing kalau di scroll. Anyone knows how to make it fix? :(

Lalu lalu, saat ini saya sedang menjalani diklat OSKM. Dari diklat ini saya kepikiran beberapa hal. Tentang zona kenyamanan dan jalan hidup yang lo pilih.

Seperti yang kita tahu, hidup ini sangat unik. Ada mainstream dan non-mainstream. Ada orang yang memilih jalan hidup yang 'lurus-lurus aja'. Pilih jurusan kuliah yang umum aja biar cepet dapet kerjaan, dapet jodoh, dan happily ever after. Versi simpelnya nih, waktu ada tugas kelompok, ikutin ajalah apa maunya si ketua kelompok biar cepet beres. Pokoknya dia mengikuti seperti apa hidup seharusnya. Tapi sebenarnya, siapa sih yang menentukan hidup itu seharusnya seperti apa?

Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya yang menentukan hidup itu seperti apa, hidup kita seperti apa, itu kita sendiri. Jadi kalau ada orang yang bilang mengikuti seperti apa hidup seharusnya, mungkin sebenarnya lebih tepat dikatakan mengikuti seperti apa orang lain kebanyakan. Menjadi seperti apa orang banyak pada umumnya.

Ada juga orang yang mengambil 'jalan yang nggak biasa'. Misalnya, dia memilih jurusan yang 'aneh' saat kuliah. Atau dia memilih untuk berwirausaha daripada menerima tawaran kerja dari perusahaan yang akan memberinya gaji besar. Intinya orang non-mainstream ini berani mengambil resiko untuk jadi berbeda. Sesuatu yang mereka pikirkan baik untuk mereka, dengan sepenuh hati berusaha mereka jalani dan dengan sepenuh hati berusaha mereka wujudkan agar tercapai sesuai apa yang mereka inginkan.

Bukan berarti saya menjudge orang-orang mainstream adalah 'orang yang gitu-gitu aja', nggak inovatif, nggak berani ambil resiko, dsb. Kalau memang seseorang punya passion di sebuah bidang yang umum, misalnya, katakanlah semua orang milih Teknik Lingkungan, dan orang itu juga milih Teknik Lingkungan karena dia suka, ya bukan berarti dia cuma ikut-ikutan aja. Mainstream dan non-mainstream bukan parameter untuk hal-hal di atas, tapi hanya sebuah gambaran awal.

Ada beberapa poin tentang jalan hidup yang menurut saya mendeskripsikan apa itu 'bahagia', apa itu 'beda':

1. Memilih jalan hidup sesuai apa yang lo sukai
Satu kata untuk menjelaskan 'apa yang lo sukai': passion.
Banyak banget kasus teman-teman saya yang tidak bisa berkarir di bidang yang dia suka karena pemilihan jurusan di masa kuliahnya yang tidak mendukung passionnya tersebut. Saya nggak bisa bilang kalau saya bukan pengecualian, karena saya tadinya juga begitu. Tapi sebenarnya Allah memberikan jalan hidup itu pasti yang terbaik untuk kita kan?

Passion kita pasti nggak stuck hanya di satu bidang. Mungkin lo nggak dapet jurusan kedokteran yang sangat lo idam-idamkan. Tapi ternyata di universitas yang lo masuki, ada sebuah unit yang mendukung passion lo di bidang fotografi. Bahagia nggak? Kalau saya sih, bahagia banget. Lumayan kan? Mungkin karir utama saya masih berusaha saya sukai, tapi saya bisa punya sidejob dari hobi saya yang didukung unit saya itu.

Memang, kita nggak pernah tahu apa rencanya-Nya.
Ada orang yang diberikan kesempatan sama Allah untuk terjun langsung di bidang yang dia sukai. Mendapatkan jurusan yang dia idam-idamkan. Menjadi seperti apa yang dia inginkan.
Ada juga yang diberikan jalan lain: passion sebagai sidejob sekaligus refreshing dari kepenatan pekerjaan utama.
Dan terakhir, orang yang diberi jalan lain oleh Allah, tapi berani mengambil resiko untuk memilih passionnya instead of stuck di pekerjaan yang tidak ia sukai.

Oh iya, saya tadi bilang memilih jalan hidup sesuai yang lo sukai. Berarti bukan hanya karir, tapi ketika lo dihadapkan pada pilihan, pilihlah sesuatu berdasarkan kata hati lo. Untuk beberapa kondisi memang susah. Nggak semua bisa sesuai yang kita inginkan kan? Tapi setidaknya usahakanlah.

Semua orang punya pilihan masing-masing. Saya sendiri alhamdulillah menemukan passion saya yang lain, selain sebuah bidang yang saya idam-idamkan sejak dulu (oke, saya ngaku aja, saya dari dulu suka arsitektur dan interrior). Alhamdulillah, passion saya nggak hanya satu itu aja. Saya juga sudah ikhlas sekarang, dan memilih untuk menjadi penikmat indahnya arsitektur dan interrior suatu bangunan, daripada jadi desainer atau arsiteknya. Sekarang saya mau fokus di bidang yang saya cintai: mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik :)

2. Berani mengutarakan atau/dan mewujudkan apa yang lo pikirkan
Simpel aja, banyak orang yang punya pemikiran luar biasa dan tidak biasa tapi nggak terwujud hanya karena mereka nggak berani mengutarakannya atau nggak berani mewujudkannya. Setidaknya, katakan apa yang ada di pikiran lo pada orang lain. Cari aja orang yang kira-kira bisa diajak diskusi tentang apa yang ingin lo utarakan, dan sampaikan uneg-uneg lo. Pasti ada macam-macam reaksi, ada macam-macam tanggapan. Mungkin lo bisa berantem sama orang itu karena membahas suatu permasalahan, di mana kalian punya pemikiran yang berbeda. Nggak apa-apa, itu proses. Kenapa harus takut sama tanggapan orang lain? Semua orang punya hak untuk menyuarakan apa yang ada di kepala mereka, bahkan meskipun pemikiran kita sangat teramat aneh dan tidak biasa.

3. Berani mengambil resiko
Nah, yang ini adalah inti dari semuanya. Sikap berani ambil resiko inilah yang menentukan seperti apa hidup seseorang. Contoh gampangnya, ada satu orang yang berani maju kedepan saat seribu orang lainnya hanya diam di tempat. Ada empat orang yang berani mencalonkan diri jadi ketua angkatan, sementara seribu orang lainnya cenderung hanya terima jadi. Ada orang yang cenderung memikirkan dirinya sendiri, tepatnya cenderung memikirkan kenyamanan dirinya sendiri, sementara orang-orang lain mau bekerja.

Kenapa seseorang susah keluar dari zona kenyamanan mereka?

Hmmm, gini deh. Waktu kecil, kita makan disuapin. Semakin besar, berapa banyak orang yang berusaha belajar megang sendok sendiri, tanpa menunggu disuruh orangtuanya: 'kamu udah gede, makan sendiri dong'.

Sama aja seperti sekarang. Hidup kita dari dulu gini-gini aja. Pengen deh punya prestasi yang bisa ditulis di CV. Jadi ketua apaa gitu. Menang apaa gitu. Kenapa nggak pernah kesampaean? Nggak ada kesempatan? Bukan. Menurut saya sih, kesempatan itu ada dimana-mana. Kita hanya nggak berani memulai sesuatu yang baru, nggak berani ambil resiko, nggak berani keluar dari zona kenyamanan kita.

Kalau saya, saya ceritakan aja ya. Saya ini dididik untuk jadi orang yang biasa-biasa aja. Alhamdulillah kalau bisa sukses, tapi yang normal-normal ajalah, nggak usah yang aneh-aneh.

Saya cerita nih, "Pa, aku jadi panitia PSB."
Papa bilang, "Kegiatan apaan tuh? Nggak usahlah kalau memang nggak ada kaitannya sama pelajaran kamu."

Lalu saya cerita lagi, "Mam, aku pengen deh liburan ke Pulau Tidung."
Mama bilang, "Aduh, jangan deh, ombak lagi serem nih."

See? Orangtua saya memang begitu. Saya dididik untuk stay safe. Memang sih itu untuk kebaikan saya. Saya seringkali menawar agar keputusan mereka bisa diubah. Sesuatu selalu bisa dilobi kok. Namun mindset saya disetting seperti itu. Untungnya, berkat hidup ngekost dan bergaul dengan orang-orang yang berjiwa 'bebas', saya masih bisa memikirkan jalan alternatif dari template yang diberikan orangtua saya.

Sulit memang, untuk jadi 'beda'. Untuk keluar dari 'sangkar yang nyaman' dan berusaha mencari makan sendiri. Tapi, ketika lo kehilangan sesuatu, pasti lo akan mendapatkan sesuatu, percaya deh. Seperti yang Ralph Waldo Emerson bilang,
For everything you have missed, you have gained something else, and for everything you gain, you lose something else.

Hidup saya juga belum memenuhi kriteria di atas kok. Saya masih 'mayoritas', bukan 'minoritas'. Tapi saya mau mencoba :)
So let's get out of our cage guys.
And one more thing: whatever you do, do it with all your heart

You Might Also Like

3 comments

  1. Icha, biasanya sih ortu kaya gitu karna mereka emang terlalu sayang sama lo. Gw rasa, kalo lo punya adek kecil yang serasa bayi lo, atau pas nanti lo punya anak, lo bakal ngelakuin hal yang sama, apalagi lo perempuan. Mungkin... :D


    Tentang gimana kita harus keluar dari mainstream, believe it or now, bukan berarti gw bilang gw orang hebat ya yang bisa diluar mainstream, tapi, terkadang gw suka ngiri sama orang2 di mainstream. Kenapa sih, gw ga bisa sama kaya orang lain? Tapi kalo gw rasa, kasus gw adalah karena gw orang freak, bukan orang hebat yang lo maksud :P


    So, let's get out of our cage! Emang beda banget ya dunia kampus!

    BalasHapus
  2. Hehe iya dhin, gw tau sih. Memang kadang orang suka protektif dan ngebatasin orang yang disayang :D

    Ehm kalo soal mainstream atau enggak emang tergantung masing2, cumaa gw pengen sesekali ngerasain sesuatu yang 'beda', kalo selama ini gw mainstream pengen sekali2 jadi orang freak gitu :D

    BalasHapus