Setahun di Institut Teknologi Bandung

17.50.00

Halooooo!
Aaaaah betapa bahagianya menulis lagi. Maaf ya kalau saya agak lebay. Baru saya perhatikan kalau ternyata terakhir nulis di sini bulan Januari. How unproductive i am :(

But now, it's holiday, not Halliday anymore.
Hehe, kalimat di atas banyak digunakan sama anak-anak TPB ITB yang udah kelar semester 2. Hal ini dikarenakan text book fisika dasar kami yang super tebal itu pengarangnya adalah Mr. David Halliday.. dan di holiday ini, kami bahagia sekali sudah tidak harus bertemu lagi sama buku karangannya (meskipun sebenernya sih, saya jarang banget buka text book yang bisa bikin keseleo bawanya saking berat banget itu).

Ada beberapa alasan saya nggak menulis blog selama kuliah.
Salah satunya adalah karena selama masa kuliah, isi hari-hari saya adalah, secara berpola: belajar di kampus - belajar di kostan - main sama aswin selama weekend - (sedikit) berpartisipasi di beberapa kegiatan u-green - dan beberapa kesempatan hura-hura sama Sashia atau/dan Alyssa.

Sangat jarang saya punya waktu untuk diri sendiri.
Yah, saya masih online facebook dan twitter, tapi entah kenapa beberapa kali hal tersebut menjadi sebuah aktivitas yang menjemukan, bahkan kadang menyebalkan.. padahal sih nggak ada kejadian apapun yang bisa membuat saya merasa begitu.
Saya berusaha mencari hiburan di antara kesibukan, dan saya lari ke situs jejaring sosial tersebut. Tapi rasanya, itu bukan sebuah hiburan yang benar-benar 'menghibur'. You browse, and then you feel guilty for wasting your time only for what, checking your friends' new photos? What is the point of that?

Oke, maaf kalau saya agak skeptis soal ini. Saya juga nggak ingin membahas poin plus dan minus tentang situs jejaring sosial kok. Saya kali ini mau sharing pengalaman selama satu tahun kuliah di ITB :)

Jadi, setelah diterima di ITB, mahasiswa ITB akan mengalami 'Tahap Persiapan Bersama' atau biasa disingkat TPB. Di masa TPB ini, pelajaran yang dipelajari di semua fakultas dan sekolah sama: Kalkulus - Fisika - Kimia, dan beberapa pelajaran dasar lainnya, kecuali tentu saja untuk mahasiswa FSRD dan SBM.

Semester pertama saya, alhamdulillah, bisa dilalui dengan baik, menghasilkan nilai yang cukup baik juga - rata-rata sih, tapi setidaknya cukup baiklah (menghibur diri). Semester pertama adalah waktu  adaptasi, di mana saya masih labil banget, masih sering homesick, masih berharap bisa lebih sering ketemu temen-temen SMA saya untuk sharing segala yang saya lakukan di dunia baru yang asing ini.

Semester dua... err.. secara lingkungan hidup dan sosial, saya merasa sudah nyaman dengan teman-teman TPB saya - sangat nyaman malah. Alhamdulillah saya diberikan teman sekelas yang luar biasa asik. Inilah mereka: FTSL Kimdas 24 2009 :)


Selain teman kelas, saya juga senang sekali bisa berpartisipasi nyata dalam kegiatan-kegiatan lingkungan, juga ikut aktif lagi dalam kegiatan organisasi. Semua ini berkat U-green dan para Greeners yang nggak bosen mengajak saya ikut berbagai kegiatan (meskipun masih minim sekali aktifnya) juga mengajari saya berbagai fakta tentang masalah lingkungan. You don't know how happy i am, met so many people who have the same goal with me :')

Saya juga mulai terbiasa dengan suka-duka ngekost di Bandung, kota yang saya idam-idamkan sebagai tempat tinggal. Saya belajar bertanggung jawab, baik itu untuk kepentingan diri sendiri maupun yang berkaitan dengan orang lain. Oh iya, satu hal terakhir yang saya nikmati dari kota Bandung adalah udara pagi harinya yang lembab tapi segar. Oke sebenarnya saya nggak tahu apakah udara Bandung pagi itu baik untuk kesehatan atau nggak, tapi saya sangat menikmati sesi jalan-jalan dan lari pagi di semester ini. It's really refreshing!

Dan tentang masalah akademik di ITB sendiri, saya nggak bisa bohong kalau nilai semester 2 saya turun dari semester 1. Mungkin saya kebanyakan main, mungkin cara belajar saya yang berubah jadi begadang sampai pagi dan tidak memanfaatkan weekend untuk belajar itu salah besar, mungkin karena saya hampir nggak pernah bisa fokus di kelas... banyak faktor penyebab yang bisa jadi alasan nilai saya menurun. Menyesal? Iya.

Malu rasanya sama teman-teman yang berhasil meningkatkan prestasi mereka dari semester sebelumnya. Malu sama diri sendiri yang dulu janji bakal lebih baik di semester ini. Waktu tahu nilai uts pertama semester dua saya yang mengerikan, saya langsung pasang tulisan ini di kamar: 'Buat apa bangga kuliah di ITB kalau nilai lo jelek?'

Yah, setidaknya saya punya motivasi. Tapi ternyata, nilai saya masih tetap jelek pada akhirnya. Satu hal yang saya tangkap dari sikap saya semester ini adalah kebiasaan buruk untuk cepat down kalau melihat orang lain lebih bisa. Apalagi kalau orang itu teman dekat saya. Bukannya merasa termotivasi, saya malah jadi malas belajar. Mungkin sikap saya yang selalu pengen terlihat bagus di depan orang terdekat inilah yang perlu saya rubah. Biar bagaimanapun hidup ini pasti butuh orang lain, nggak mungkin semua bisa diselesaikan sendiri. Setidaknya sekarang saya tahu salahnya di mana, dan berusaha mengikhlaskan semester ini sebagai pembelajaran untuk semester ke depan.

Banyak sekali yang saya dapatkan dari setahun di Institut Teknologi Bandung. Teman baru, organisasi, real action for our beloved earth.. dan yang paling berharga adalah, pengalaman hidup dan pelajaran-pelajaran tentang itu.

Di ITB, sebagian besar dosen suka curcol dan sharing tentang pengalaman hidup mereka yang sangat inspiratif.
Di ITB, saya diajarkan untuk mencintai Indonesia dan kebudayaannya yang sangat beranekaragam.
Di ITB, kami tidak hanya diajarkan bagaimana untuk 'hidup', tapi untuk 'hidup' dan menghidupi bangsa ini.

Sejak saya mengumandangkan Salam Ganesha di Sabuga, sejak hari itulah saya merasa rasa cinta saya terhadap kampus ini, yang sudah ada bahkan sebelum saya kuliah di sini, menjadi semakin besar.
Sejak awal masuk, kami dipanggil sebagai 'putra-putri terbaik bangsa'. Bukan bermaksud untuk menyombong, itu hanyalah sebuah 'template', sebuah mind set awal. Kami dididik untuk punya mind set bahwa kamilah 'the agent of change', orang-orang yang akan membawa perubahan pada bangsa ini.

Tapi, ada satu kalimat kutipan dari seorang danlap (yang diinformasikan kepada saya dari ketua ITB Fair 2010), yang selalu saya ingat:
"Tidak ada sangkar emas yang dapat mengubah merpati jadi rajawali."

Artinya, saya masih harus berusaha untuk sukses di kampus yang sudah menghasilkan banyak orang hebat ini.

Quote lain yang 'mengena' buat saya adalah:
"Suatu hari, saya bertemu seorang ibu di luar sana. Ketika dia tahu saya mahasiswa ITB, dia bilang, saya akan jadi orang hebat. Dia bilang, saya-akan-jadi-orang-hebat! Kalau saya akan jadi orang hebat, maka kalian juga pasti-akan-jadi-orang-hebat!"
Danlap Kadwil FTSL 2010

Amin.. semoga benar begitu ya. Saya nggak akan menyia-nyiakan harapan masyarakat di luar sana, semoga ITB memang wadah terbaik untuk saya membuat perubahan untuk bangsa ini :)

p.s.: maaf kalau jadinya terlalu terlihat seperti cinta yang berlebihan terhadap almamater.. tapi apa boleh buat, saya memang punya rasa cinta yg besar pada institut teknologi bandung :p

You Might Also Like

3 comments

  1. Emang ya kita jadi cinta banget sama almamater kita


    Ga bisa banyak komen gw soal postingan lo Cha. Tapi gw bangga, dan gw salut, keren banget. Gw jatuh cinta juga sama ITB



    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater

    kita akan jadi orang hebat

    BalasHapus
  2. thank you dhin. smg kita bisa jd orang hebat ya :)

    BalasHapus
  3. gak lengkap lulus TPB klo gak ikutan diklat panitia OSKM.. lumayan dapet teman baru beda fakultas, dapet pemahaman baru.. yg pasti bisa ngospek mahasiswa baru, hahaha..

    kata2 danlap OSKM 2006 yg masih gw inget "sangkar besi takkan merubah rajawali menjadi burung nuri"
    beda2 dikitlah sm yg ditulis diatas..

    Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater

    cheers eh Merdeka!

    BalasHapus