Lari

by - November 19, 2010

Halo. Hari ini saya berada di Bekasi, padahal di Bandung sana, kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Sakit? Tidak.
Urusan gawat darurat? Tidak.
Bisa dikatakan, saat ini saya lari.
Lari dari realita yang sudah sangat menjemukan.
Lari dari kehidupan yang seharusnya saya jalani.

Sebuah kontradiksi:
saat ini adalah masa di mana saya menikmati hidup sebagai mahasiswi TL, tapi di sisi lain, saya juga lelah.

Ketika awal masuk jurusan ini, saya masih tidak punya pegangan. Merasa aneh, kenapa tidak bisa merasa bangga seperti orang lain yang baru masuk jurusan yang diinginkan?
Sekarang, saya bangga berada di jurusan dimana banyak orang-orang yang tulus belajar tentang lingkungan. Mereka tidak hanya belajar, namun juga mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari serta membaginya dengan sesama.
Saya bangga berada di jurusan ini bersama angkatan saya, Swargalokanata, yang punya daya imajinasi tingkat tinggi. Bersama angkatan ini, saya merasa kuliah di jurusan drama, instead of TL :)
Saya menikmati kuliah di jurusan dengan ilmu yang sangat kompleks. Lingkungan itu luas, tidak terbatas. Namun, bukan berarti tidak terjangkau. Segala sesuatu di sekitar kita adalah lingkungan, keberadaannya selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lalu, kenapa saya lari?

Bisa dibilang saya ingin bernafas sebentar. Bukan hanya dari kehidupan kuliah-kostan, tapi juga kehidupan di Bandung.
Rute yang sama. Gedung yang sama. Makanan yang sama. Tempat melarikan diri yang sama. Pola hidup yang sama.

Jenuh.

Pelarian ini adalah sebuah alasan. Alasan untuk bangkit kembali setelah kejenuhan itu. Pelarian ini adalah kesempatan untuk melihat betapa berharganya kehidupan saya yang menjemukan itu. Bahwa meskipun saya selalu mengeluh, mengatakan lelah, mengatakan bosan, namun kehidupan ini adalah pilihan saya. Pilihan saya yang direstui oleh-Nya. Pelarian ini mengingatkan saya, kehidupan membosankan ini juga adalah tanggungjawab saya. Sebuah tanggungan yang tidak bisa saya tinggal begitu saja. Dan terakhir, sesungguhnya kehidupan ini tidak akan semembosankan itu, jika saya tidak menganggapnya demikian. Kekuatan sugesti.

Setiap orang punya titik jenuhnya masing-masing, dan setiap orang berhak melakukan pelarian. Namun jadikanlah pelarian itu sebagai motivasi, sebagai alasan untuk bangkit kembali. Untuk kembali menikmati kehidupan dan rutinitas sehari-hari sebagai hal yang menyenangkan. Untuk berhenti mengeluh dan mulai untuk melakukan semuanya dengan tulus ikhlas. Karena saya percaya, Dia tidak akan memberikan beban melebihi batas yang kita mampu.

You May Also Like

2 komentar

  1. hi ica, keep writing and running :p

    meutia

    BalasHapus
  2. All the conventions of storytelling should be included: plot, character, setting, climax, and ending.

    BalasHapus