Life Lessons

23.55.00


Akhir-akhir ini saya banyak belajar hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan. Bukan sok tahu atau sok bijak sih, cuma pengen sharing aja tentang apa yang saya dapatkan berdasarkan pengalaman.

Jadi, katakanlah di Bandung ini saya dididik untuk menjadi orang yang sederhana. Yah contoh simpel, saya anak kost. Meskipun mama nggak pernah ngejatahin per bulan berapa, atau kapan tanggal transfer – saya bisa minta uang kapan aja – tapi saya pribadi nggak suka kalau harus selalu bergantung sama uang dari orangtua. Dan karena saya belum punya penghasilan sendiri, saya prefer berhemat, meskipun mungkin di mata sebagian orang ‘hemat’ nya saya itu masih cukup boros. Tapi setidaknya saya berusaha.

Hidup dalam lingkungan keluarga yang sederhana juga membuat saya terbiasa untuk berpikir ulang untuk membeli segala sesuatu. Di banding dulu, saya less consumptive. Simply because, sekarang saya selalu berpikir setiap mau membeli barang.
Beneran dibutuhin nggak sih?
Emang harus banget ya beli majalah tiap bulan, hanya karena saya perfeksionis dan nggak mau ketinggalan satu edisi aja? Padahal majalah yang beli bulan lalu aja belum sempet dibaca sampe habis (saya selalu baca semua artikel di majalah dari depan sampe belakang). Begitu juga soal makanan dan cemilan. Dulu saya selalu nyetok macem-macem di kamar: timtam, oreo, segala macam cemilan ada di loker saya karena memang saya doyan ngemil. Tapi entah bagaimana, cemilan saya pindah ke dua jenis: regal-nutella dan keju cake. Jadi jarang banget beli yang lainnya, kecuali bener-bener ngidam.

Selain masalah kebutuhan, saya juga berpikir dari segi berapa banyak sampah yang dihasilkan.

Orang yang konsumtif tentunya akan lebih banyak menimbulkan timbunan sampah dibanding orang yang nggak konsumtif. Memang sih saya nggak se-freak itu juga, kalau lagi pengen banget saya tetep beli. Cuma, aspek lingkungan ini lumayan buat jadi penghambat sifat konsumtif selain aspek kebutuhan tadi.

Tentang hidup sederhana itu sendiri, selain karena tuntutan finansial, saya juga banyak belajar dari keluarga lain. Lebih seperti toleransi sih, dan akhirnya malah jadi mindset yang membuat saya berubah soal pola hidup.

Ada lagi nih hal baru yang membuat saya miris tapi juga jadi ingin lebih ‘down to earth’ daripada dulu. Ceritanya, karena job saya di PROKM, saya jadi tahu harga botol plastik bekas dan tetrapak bekas itu per kilo nya berapa, karena saya menjual sampah-sampah dari sekre PROKM ke TPS Taman Sari. Dan ternyata, botol plastik bekas itu harganya Rp 2000,00/ kilo, sedangkan tetrapak hanya Rp 500,00 / kilo! Sedih banget loh karena saya udah berharap si tetrapak ini mahal (seperti yang digembar-gemborkan anak-anak U-green) karena sebenarnya tetrapak bisa diolah jadi genteng yang kuat gitu, saya kurang tahu juga sih. Intinya, setelah ngumpulin banyak selama beberapa hari di satu kardus, ternyata cuma dapet Rp 500,00. Saya jadi inget pemulung-pemulung yang ngumpulin, harus sampai berapa banyak sampai mereka dapat uang yang cukup? Sedih juga kalau dipikir-pikir :(

Tapi dengan hidup sederhana itu juga, ada hal-hal seperti kebahagiaan yang nggak bisa didapatkan ketika hidup lo berkecukupan. Papa pernah cerita soal ini. Bahwa kebahagiaan seperti makan makanan yang jarang dimakan aja bisa jadi sesuatu yang luar biasa, karena terbiasa hidup sederhana. Tapi kalau segala sesuatu sudah terpenuhi, segala sesuatu serba ada, kita jadi nggak bisa menikmati lagi kebahagiaan dari hal-hal kecil itu, karena terasa sangat biasa.

Kesimpulannya?
Bahwa perilaku konsumtif (untuk hal-hal yang kurang perlu) itu nggak memberikan manfaat apapun selain membuang uang dan menimbun sampah lebih banyak. Bahwa lewat hidup yang lebih sederhana, kebahagiaan bisa diperoleh dari mana aja – dari hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Tapi bukan berarti orang yang berkecukupan nggak bisa hidup bahagia kok. Silakan pilih kalian lebih prefer pola hidup seperti apa, basically, hidup akan selalu terasa menyenangkan selama kalian menikmati segala sesuatu yang terjadi. Tapi jangan lupa juga ya sama mereka yang mungkin nggak bisa hidup seenak kalian.

You Might Also Like

1 comments