On Ika Natassa's piece of work

19.41.00


Beberapa hari ini saya diracuni karya-karya Ika Natassa. Novel pertamanya yang saya baca adalah Underground, yang saya pinjam dari Yuke (dan dikembalikan dalam keadaan yang tidak layak, maaf ya juk). Setelah baca dan ternyata lumayan juga – saya dikasih tau sama Tias kalau Ika Natassa sudah punya dua novel yang diterbitkan sebelumnya.

Novel pertamanya adalah A Very Yuppy Wedding (AVYW) dan novel keduanya adalah Divortiare. Saya familiar dengan cover kedua novel itu, sering lihat di Gramedia. Tapi justru ketika saya mencari-cari kedua novel itu, susah banget menemukannya! Mungkin karena memang sudah lumayan lama juga diterbitkannya. Yang pertama saya temukan adalah AVYW, kemudian saya mengikuti twitter @alexandrarheaw, twitternya si Alex tokoh utama Divortiare. Twitter ini menceritakan kehidupan selanjutnya setelah novel Divortiare. Tambah penasaran aja kan cerita Divortiare nya itu gimana. Sayangnya susaaaaah banget mencari novel ini sampai suatu hari, dengan niat mencari komik, saya malah menemukan Divortiare! Selain itu juga, saya beli Antologi Rasa, novel keempatnya Ika Natassa. Berikut kesan saya tentang tiga novel Ika Natassa.

AVYW – menurut saya, ini tergolong bacaan ‘ringan’. Meskipun konfliknya nggak se-ringan konflik anak SMA jatuh cinta, tapi jujur saja waktu baca resensi di belakang novelnya dengan baca isi novelnya, agak di luar ekspektasi saya. Mungkin daya imajinasi saya aja yang ketinggian kali ya, jadi ekspektasinya aneh-aneh. But overall, novel ini mengalir sekali dan saya suka alurnya. Pelajaran yang saya dapat dari novel ini: don’t ever judge people only by your own perception, assumption, imagination, whatever you call it. Apalagi sama pasangan sendiri. Satu lagi: di balik setiap perilaku seseorang, there’s always a reason behind it. If you’re dying to know the reason, just ask straight to the person. Even if maybe your ego said it’s the last thing you want to do.

Divortiare – cerita yang nggak berhenti sampai sekarang membuat saya super salut sama Mbak Ika. Cool banget membuat account twitter seorang Alex and bring her to our daily life, as if she’s real. Cerita novelnya yang menceritakan kehidupan pasca-cerai ini kalau mengutip Tias, ‘nggak ada bahagia-bahagianya sama sekali’. Tapi seorang Mbak Ika bisa membuat cerita-nggak-bahagia itu begitu menarik untuk diikuti dan dibaca. Absolutely not a yellow-mellow kind of story, meskipun kalau dibaca baik-baik banyak banget bagian galaunya :p Buat saya, Divortiare itu menggambarkan bagaimana seseorang harus memperjuangkan sesuatu sampai titik darah penghabisan. Lebay ya, hehe. Memang begitu sih sebenarnya. Alex dan Beno memutuskan untuk cerai karena nggak ada yang mau mengalah. Soal mengalah ini, saya bahas sedikit nggak apa-apa ya.

Jadi kalau soal mengalah dalam hubungan itu, ada dua hal yang akan terjadi, tergantung sifat pasangan yang kita relakan untuk mengalah.
1. A mengalah: B terharu, tahu diri, insaf, mengalah balik buat A = hubungan membaik.
2. A mengalah: B terharu, berterimakasih sama A, kemudian melakukan hal yang sama dengan pikiran ‘Nanti juga A mau ngalah’ = hubungan memburuk.

Ya begitulah, respon setiap orang beda-beda. Belum tentu juga di Case 1, kesalahan yang sama nggak terulang. But you got what I mean, don’t you? Seseorang nggak bisa mengalah terus-terusan, bahkan untuk orang yang paling dia cintai sekalipun. Syukurlah di cerita ini hubungan Beno dan Alex masih bisa survive lagi (eh, maaf ya spoiler :p).

Selain soal perjuangan dan mengalah, another lesson I got is: sometimes God give us another way to reach our happiness. Bahwa kalau kita gagal untuk Kasus A, bukan berarti kita harus langsung beralih ke Kasus B, apalagi kalau di pikiran kita masih penuh dengan si Kasus A ini. Allah memberikan jalan yang berbeda-beda untuk setiap orang. Mana tahu kan perasaan benci pada mantan suami itu ternyata distraction dari perasaan masih-cinta-tapi-dikecewakan?

Antologi Rasa – novel yang ceritanya sangat complicated, A mengejar B mengejar C mengejar D. Nggak ketemu titik tengahnya. Dari novel ini digambarkan realita kehidupan bahwa nggak semua cerita cinta itu happy ending. Dan salah satu pembuktian teori saya dulu kalau friendship game is bloody confusing.

Karena tema utamanya adalah cinta tak sampai, tentunya ada korban-korban rebound juga nih di novel ini. Yang saya ambil hikmahnya sih, you can't judge or blame people who searching for rebound only because they could hurt another people heart. Karena, mereka yang mencari rebound itu mostly because they desperately need happiness. Dan sayangnya mereka nggak mendapatkannya dari orang yang mereka sayang. Sebagian besar orang punya rebound bukan karena sengaja mencari, tapi karena merekalah yang 'ada' di saat orang-orang desperate itu butuh perhatian, butuh kasih sayang. Dan orang yang desperate butuh kasih sayang itu pun belum tentu merasa 'yaudahlah ya sama dia aja', ada juga yang confused with his/her own feeling, karena mungkin saking nyamannya dengan si rebound ini dia merasa (seperti) jatuh cinta.
Jadi ya, novel ini mengajarkan untuk melihat daerah 'abu-abu' sih buat saya. Nggak bisa melihat segala sesuatu itu hitam-putih aja.

Saya nggak bahas Underground karena sudah lama bacanya, ditengah kesibukan kuliah, jadi ceritanya udah agak-agak lupa hehehe.. Kenapa saya bikin tulisan ini selain karena ketiga novel itu memang mempengaruhi saya secara emosional, lessons yang didapet juga dekat dengan kehidupan sehari-hari :p

Semoga tulisan saya ini bisa membuat kalian agak-agak penasaran pengen baca novel-novelnya ya. Lumayan merefresh otak kok di liburan ini, jenis bacaan ringan yang tetep 'berisi' :)

You Might Also Like

1 comments

  1. divortiare itu bagus ya cha? cliche ga akhirnya? maksud gw yg happily ever after plus ada adegan kejar-kejaran di airport gitu. hehehehhehe.

    BalasHapus