Tentang Tidur, Kafein, dan Saya

09.40.00

Halo! Posting di bawah itu tugas pertama saya buat mata kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi. Meskipun namanya agak berat, sebenarnya tujuan mata kuliah ini adalah supaya mahasiswa bisa membuat tulisan yang sekiranya dapat dipublish di media massa. Jadi ya, sebenarnya nggak harus tentang sains dan teknologi juga.

Nah posting ini sebenarnya bukan mau membahas soal mata kuliah itu atau soal ketertarikan saya sama bidang jurnalisme, tapi lebih ke tentang alasan saya membuat tulisan dengan tema tidur untuk tugas jurnalisme tersebut.

Tidur buat saya adalah privilege yang luar biasa. Kenapa? Soalnya saat tidur, waktu yang berjalan itu hanya milik saya seorang. Saya bebas bermimpi, bebas guling-gulingan, bebas leyeh-leyeh, tanpa ada yang mengganggu. Kegiatan dimana saya nggak harus bertoleransi, nggak harus bete karena orang yang nyebelin atau kuliah yang menyebalkan - kegiatan yang memang hanya untuk istirahat.

Pernah tidur 8 jam tanpa gangguan? Gimana rasanya waktu bangun? Super segar sekali pastinya. Manusia memang seharusnya menghabiskan sepertiga harinya dengan tidur, tapi sekarang, dengan segedumbrangan aktivitas demi satu tujuan 'kemajuan bangsa', tidur 8 jam itu adalah kemewahan.

Buat saya sendiri, tidur itu penting, tapi personally, saya sering takut tidur. Takut kehilangan waktu. Takut ketika kerjaan saya ditagih, ketika deadline laporan mendekat, ketika uts menuntut nilai bagus, saya nggak siap semata-mata karena saya berusaha memenuhi kebutuhan dasar sebagai seorang manusia: tidur.

Teman saya, Tias, bilang kalau sejak masuk ITB, kantung matanya nggak pernah hilang. Hanya terlihat parah atau nggak saja. Dan kalau saya ngaca, saya benci mengakui bahwa hal yang sama terjadi pada saya. Bedanya adalah saya nggak perlu mengukur tingkat parah atau nggak, secara dua per tiga hidup saya dihabiskan dengan begadang, jadi ya mostly mata saya akan terlihat seperti panda.

Saya suka kagum sama orang-orang yang terbiasa tidur kurang dari jam 10 dan bangun jam 5 pagi. Lalu menjalani harinya dengan wajah segar dan bahagia. Pengen banget kaya gitu, bosen ditanyain, "Ica sakit?" Padahal muka kucel dan suntuk ini hanya karena kurang tidur.

Ada satu lagi nih, soal kafein. Si kafein ini pada dasarnya kan buat menjaga supaya nggak ngantuk. Tapi buat saya, caffeine is a mood-booster. Jadi biar nggak lagi pengen begadang, kalo suntuk ya biasanya saya akan mencari kopi. Keefektifan si kopi itu sendiri buat menjaga kantuk saya sebenarnya mood-moodan, kadang ngaruh, kadang nggak.

Tentang kafein dan kopi, seperti yang tadi saya bilang, mereka adalah mood booster, dimana kalau ada yang melihat saya minum kopi dalam keadaan stress, kelihatannya seperti orang stress nenggak alkohol. Dan sejujurnya, saya pernah mengalami 'mabok kopi', hasil minum kopi dua cangkir di Selasar Sunaryo. Maboknya itu adalah saya jadi super semangat, bawaannya bahagia histeris, kleyengan.... macam orang mabok beneran. Bahaya banget nggak sih? Separah itu efek kopi buat saya. Mungkin karena saya menganggapnya sebagai penghilang stress, jadi begitu minum kopi, ya begitu deh efeknya, kaya orang stress yang merasa masalahnya hilang sesaat saat menenggak kopi.

Karena digunakan buat menghilangkan stress, sometimes it can be quiet addictive for me. Stress dikit, kopiiii! Laporan belom beres - ada RA - ada rapat U-green - ada janji sama Aswin = KOPIII! Begitulah, jadi kopi bener-bener bukan cuma untuk menjaga saya melek aja.

Akhir-akhir ini, saya nggak minum kopi. Sudah sebulan lho! Padahal biasanya saya selalu punya monthly dose of caffeine yang nggak boleh dilewatkan. Kalau ditanya kenapa, jawabannya adalah karena sebulan yang lalu saya minum kopi disaat ada masalah dengan leher saya dan tiba-tiba detak jantung yang super cepat kalau habis minum kopi itu terasa bukannya di dada tapi di leher. Dan itu terjadi beberapa hari, dimana dampaknya adalah saya sering kesulitan bernafas, terutama kalau sedang buru-buru atau tegang. Rasanya benar-benar nggak enak.

Sekarang, untuk menenangkan diri kalau lagi stress, saya prefer minum sesuatu yang menenangkan seperti camomile. Selain membuat relaks, camomile juga tidak punya efek samping (sejauh yang saya tahu) selain bikin ngantuk. Lalu kalau mau begadang? Saya bakal mencari dosis kafein lain yang lebih 'bersahabat', yaitu dari teh. Dan sumber energi lain dari sesendok madu. Lumayanlah, setidaknya nggak ada efek 'zombie kafein' nya seperti kalau habis begadang dan minum kopi, dimana badan lo hanya digerakkan oleh kafein saja.

Yah semoga satu bulan ini nggak minum kopi, kedepannya saya bisa mengontrol keinginan minum kopi deh. Mengubah kebiasaan itu susah, tapi setidaknya, saya mau berusaha :)

You Might Also Like

0 comments