Kesehatan Tidur bagi Kualitas Hidup Manusia

by - Oktober 16, 2011


Pernahkah Anda merasa lelah sepanjang hari, tidak fokus dalam bekerja, atau sulit berkonsentrasi? Mungkin salah satu hal yang perlu Anda perhatikan adalah kualitas dan kuantitas tidur Anda sehari-hari.

Masalah kurang tidur sebenarnya adalah suatu hal yang krusial dalam pola hidup. Manusia diciptakan dengan jam biologis, dimana tubuh akan dengan sendirinya memberi sinyal kapan butuh tidur, kapan butuh makan, dan sebagainya. Secara umum, ada pola standar dari jam biologis ini, misalnya malam hari digunakan untuk tidur dan siang hari digunakan untuk beraktivitas. Namun kuantitas dan kualitas dari setiap kegiatan yang dibutuhkan oleh tubuh tersebut tergantung pada pola hidup masing-masing individu. Ada orang yang terbiasa tidur pukul 9 malam dan bangun pukul 5 pagi, sehingga pada pukul 7 pagi otaknya sudah fresh dan tubuhnya sudah siap untuk beraktivitas. Namun ada juga orang yang terbiasa tidur di atas pukul 12 malam dan ‘dipaksa’ bangun pukul 5 pagi, sehingga pada pukul 7 pagi otak dan badan belum fresh dan belum siap digunakan untuk beraktivitas.

Mengapa manusia seringkali menolak untuk memprioritaskan tidur? Jawabannya mudah, tentu saja karena ada tuntutan dari kewajiban mereka baik sebagai siswa, mahasiswa, maupun karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan. Ada juga sebagian orang lainnya yang menomorduakan tidur untuk mencari ‘nafas sejenak’ di antara berbagai kesibukan, dengan mengunjungi tempat hiburan malam. Apapun itu alasannya, terlihat bahwa saat ini, masyarakat cenderung tidak menganggap kegiatan tidur sebagai suatu hal yang penting dan signifikan pengaruhnya terhadap kualitas hidup.

Ada berbagai paradigma tentang tidur. Salah satu diantaranya, tidur dalam waktu yang cukup lama dianggap membuang waktu dengan percuma. Paradigma ini tentunya tidak tepat karena tidur adalah kebutuhan mendasar tubuh kita, sehingga tidur bukanlah kegiatan yang percuma karena ia memberi dampak pada kualitas hidup dan kesehatan manusia.

Bagi sebagian orang yang terbiasa bekerja dengan intensitas tinggi, waktu tidur lebih baik dimanfaatkan untuk menyelesaikan target pekerjaan sehingga beban hidup akan terasa lebih ringan. Padahal, mengerjakan pekerjaan apapun dengan kuantitas tidur yang kurang akan mempengaruhi kualitas hasil pekerjaan tersebut. Kuantitas tidur yang cukup akan memberikan tingkat konsentrasi yang lebih baik dalam bekerja, sehingga hasil pekerjaan akan lebih maksimal dibanding dengan hasil pekerjaan yang dikerjakan dalam keadaan mengantuk. Hal ini juga berlaku bagi tingkat konsentrasi dan daya ingat, yang pada penerapannya berlaku pada mahasiswa yang seringkali belajar sampai dini hari. Waktu tidur yang digunakan untuk belajar tentunya tidak akan menghasilkan pemahaman yang maksimal, karena otak dipaksa bekerja pada jam istirahatnya.

Hal lain yang berkaitan dengan tidur dan pola hidup manusia adalah ‘suplemen’ untuk menunda rasa kantuk bernama kafein. Masyarakat modern saat ini cenderung memiliki ketergantungan pada minuman mengandung kafein yang dikonsumsi dengan tujuan mendukung kemampuan mereka beraktivitas sehari-hari. Memang, kafein dapat meningkatkan konsentrasi sehingga rasa lelah dapat diabaikan selama beberapa waktu. Namun, apakah tubuh Anda terasa nyaman ketika kafein berhasil menggeser jam tidur Anda dan kemudian ketika efeknya hilang timbul rasa lelah yang luar brasa?

Tidak jarang pada masyarakat ditemukan zombie-zombie dengan kantung mata menggantung, yaitu orang-orang yang bergerak dan bekerja semata-mata karena didukung oleh kafein di dalam tubuh mereka. Pada kondisi ini, seringkali tubuh orang-orang tersebut sudah menuntut untuk istirahat namun efek kafein yang meningkatkan daya kerja masih ada, sehingga pada saat tidur pun kualitas tidur orang-orang pengkonsumsi kafein ini tidak baik. Dampak menurunnya kualitas tidur ini yaitu saat bangun tidur keadaan tubuh tidak segar seperti seharusnya, bahkan terasa lebih lelah dari sebelum tidur.

Pada beberapa kasus, kebiasaan buruk yang mengganggu jam tidur dapat menyebabkan penyakit bernama sleep disorder atau gangguan tidur. Gangguan tidur dapat berupa insomnia (sulit tidur), hipersomnia (kantuk berlebihan), atau gangguan selama tidur berlangsung seperti ngorok yang dapat mengindikasikan pada penyakit sleep apnea atau henti nafas saat tidur.

Selain menyebabkan gangguan tidur dan menurunkan kualitas hidup, kurang tidur juga mempengaruhi emosi manusia dan sistem metabolisme tubuh. Contoh paling umum yaitu timbulnya rasa lapar berlebih yang ternyata disebabkan oleh peptida yang mengatur nafsu makan. Waktu tidur singkat dikaitkan dengan penurunan leptin yang bertugas memberi sinyal rasa kenyang ke otak dan peningkatan ghrelin yang bertugas merangsang rasa lapar, sehingga ketika kurang tidur nafsu makan akan bertambah.

Melihat berbagai efek dari kurang tidur tersebut, seharusnya manusia menyadari bahwa tubuh manusia memang sudah diciptakan dengan jatah jam biologis untuk tidur. Jadi, meskipun zaman menuntut kita untuk berkembang menjadi individu dan masyarakat yang lebih maju, jangan sampai tuntutan itu membuat kita salah membuat prioritas, yaitu memposisikan kebutuhan dasar tubuh untuk beristirahat sebagai prioritas terakhir. Tidak mungkin terjadi kemajuan jika sumber daya manusia yang ada tidak berkualitas. Karena itu, peliharalah kebiasaan dan pola hidup yang baik dan teratur. Sesibuk apapun kita, ingatlah selalu bahwa tubuh memiliki hak untuk tidur dalam kuantitas yang cukup dan kualitas yang baik.

Catatan: tulisan ini adalah artikel yang dibuat untuk salah satu tugas essay mata kuliah.

You May Also Like

0 komentar