Something Touchy In The Middle of Midterms

Bisa dibilang, semester 6 adalah momen dimana kegiatan akademik dari kampus terasa cukup 'lowong', apalagi kalau dibandingkan sama semester 5 yang hampir bikin gila. Padahal, semester ini saya ambil 22 sks = 9 mata kuliah. Tapi, ternyata saya belum memperhitungkan masa ujian tengah semester.

Di sistem akademik ITB, masa ujian tengah semester diplotkan untuk berlangsung selama satu minggu saja. Beberapa fakultas/program studi ada yang 'nurut' sama aturan ini, dimana dosen-dosennya nggak akan atau jarang banget mengadakan ujian di luar minggu UTS ini. Tapi ada juga beberapa program studi yang dosennya sesuka hati mengadakan ujian, mau dua minggu sebelum masa UTS, atau seminggu setelah, suka-suka dia. Kebetulan, FTSL, dan TL sebagai jurusan di dalamnya termasuk jurusan yang 'nurut' sama peraturan ITB, UTS berlangsung satu minggu psaja.

Ujian sembilan mata kuliah dalam satu minggu itu bisa dikatakan hampir sama bikin gilanya dengan masa-masa jahiliyah semester 5. Please jangan dibandingkan dengan masa UTS anak SMA/SMP yang sehari juga tiga pelajaran. Pokoknya, this week feels so horrible dimana setiap hari tidurnya kurang dari tiga jam dan di kampus terasa seperti zombie berjalan.

Di tengah-tengah kepanikan dan kepusingan UTS inilah ada berita kalau di jam kosong antara uts mata kuliah A dan mata kuliah B, bakal ada kuliah tamu. Hal pertama yang saya dan teman-teman lakukan waktu tahu tentang kuliah tamu ini tentu saja, grumbling. Kaya kurang padat aja UTS, ditambah kuliah tamu pula. Tapi, keluhan itu langsung berubah waktu saya masuk dan mendengarkan Profesor Ralf Otterpohl memberikan kuliah.

Profesor Otterpohl berasal dari Technische Universitat Hamburg, Jerman. Beliau menjadi dosen tamu di mata kuliah Drainase & Sewerage, dimana beliau memberikan kuliah tentang "Eco-sanitation, Bio-waste Management, Energy Production & Agriculture". Sebelum memberikan kuliah, beliau meminta maaf karena kami harus hadir kuliah di masa-masa yang seharusnya tidak ada kuliah. Beliau membuka kuliahnya dengan beberapa pengantar yang entah kenapa membuat saya tersentuh.

Beliau memperkenalkan job-nya sebagai Insinyur Teknik Sipil yang berkutat dengan masalah drainase, sewerage, dan teknologi-teknologi pengolahan limbah. Di universitasnya memang tidak ada Teknik Lingkungan, tapi Teknik Lingkungan itu sendiri menjadi bagian dari Teknik Sipil. Beliau bilang, sebenarnya banyak pilihan keahlian yang lebih menarik-dari-sisi-keuangan dan lebih-keren-dari-sisi-kerjaan-yang-dilakukan di jurusan Teknik Sipil. But somehow he found his passion in this environmental engineering things, and well, it also makes money.

"Find some way to synchronize your passion and your profession. Do something because you love it, not because you want a big amount of money."

Beliau nggak bilang persis seperti itu sih, tapi itulah yang saya tangkap. Beliau mengatakannya dengan gaya, 'jangan sampai kalian kuliah cuma untuk uang, cuma untuk prestasi, isi kuliahnya ada di kepala tapi nggak ada di hati'.

Mungkin agak lebay, atau mungkin efek kebanyakan begadang, but at that moment I feel like crying. Mana ada dosen yang menyarankan hal seperti ini di masa kuliah. Pernah sih Pak AJ bilang, kalau nggak suka ngelab mending nggak usah ngurusin masalah mikroba, tapi efek kata-katanya kan beda banget.

Apa yang saya lihat dari pendidikan Indonesia adalah, semuanya harus dipelajarin, SEMUANYA banget, sampai kepala lo terasa penuh, baru deh lo tentuin apa yang pengen lo pilih dari SEMUANYA itu waktu lo mau kerja. Saya sih berusaha menerimanya karena apa-boleh-buat-saya-tinggal-di-negara-ini, tapi kalau saya pribadi sih paling nggak suka kalau dosen atau siapapun menuntut, "Lo kan calon insinyur TL, masa nggak ngerti ini sih?"

Bahkan di TL juga ada pilihan subjek, ada yang saya suka dan saya kurang suka, dimana tentu saja saya berusaha menyukainya. Ketika seseorang menghakimi usaha saya, it feels so annoying.

Maaf ya kalau di post ini saya banyak ngeluh, saya cuma pengen banget punya tenaga pengajar yang passionate seperti Profesor Otterpohl, dimana beliau tidak menuntut, dan membuat segala sesuatu yang kita pelajari jadi menarik, bahkan ketika lo harus mengolah tinja.

Share:

2 comments

  1. ichaaaaa, gw suka banget post iniiii.

    "Apa yang saya lihat dari pendidikan Indonesia adalah, semuanya harus dipelajarin, SEMUANYA banget, sampai kepala lo terasa penuh, baru deh lo tentuin apa yang pengen lo pilih dari SEMUANYA itu waktu lo mau kerja. Saya sih berusaha menerimanya karena apa-boleh-buat-saya-tinggal-di-negara-ini, tapi kalau saya pribadi sih paling nggak suka kalau dosen atau siapapun menuntut, "Lo kan calon insinyur TL, masa nggak ngerti ini sih?""

    apalagi iniiii >>>

    beliau tidak menuntut, dan membuat segala sesuatu yang kita pelajari jadi menarik, bahkan ketika lo harus mengolah tinja.

    emang begitu ya masa-masa kuliah, SMA, SMP. entah kenapa pas kerja menurut gw semuanya learning by doing atau bisa karena biasa. bukannya ilmu gw gak kepake, tapi kadang teori yang ada di perkuliahan jarang terpakai (kecuali yang dasar-dasar banget)malah banyak yg melenceng sama prakteknya.

    Goodluck caaaa :D

    BalasHapus