Persepsi tentang Sukses

Beberapa hari belakangan saya terjebak dalam pikiran njelimet tentang masa depan. Jadi mahasiswa tingkat 4 itu nggak gampang ternyata. Bahkan di awal semester saja saya sudah dihadapkan pada pilihan yang akan menentukan jalan hidup saya kedepannya.

Pikiran njelimet itu disebabkan perbedaan pendapat saya dan Papa. Awalnya saya bersikap defensif, saya merasa apa yang saya putuskan itu memang yang terbaik untuk saya dan keluarga saya. Lagipula, penawaran Papa sepertinya 'nggak saya banget'. Jadi akademisi. Jadi peneliti. Nulis jurnal ilmiah. Membayangkan berada di lab aja saya males.

Di satu sisi, saya toh belum benar-benar yakin dengan apa yang saya pikir saya inginkan. Ingin membantu menghidupi keluarga, alasan kuat saya menolak penawaran itu. Sementara ketika ditanya, 'Memangnya kamu mau kerja di bidang apa? Sudah tahu mau di perusahaan mana?' Saya diam.

Ada sih, satu perusahaan yang jadi target saya. Saya juga punya bayangan, ingin ngapain di sana. Namun setelah dipikir lebih jauh, saya tidak tahu apakah saya tahan bekerja dalam batas garis korporasi. Di mana, seperti kata papa, kerjanya secara garis besar itu-itu aja. Tanpa bermaksud mendiskreditkan pihak manapun, jujur saja saya tidak suka kerja monoton. Saya suka sesuatu yang terjadwal, tapi bukan monoton. Saya ingin sesuatu yang membuat saya menemukan hal-hal baru setiap harinya.

Lalu berkat tugas wawancara untuk Halo Ganesha, saya bertemu dengan Ngkong. Jujur aja menurut saya Ngkong adalah salah satu orang yang punya persepsi berbeda tentang sukses. Waktu itu Ngkong sempat menanyakan tentang pattern. Pattern apa sih sekarang yang ada di TL? Kalau lulus, kebanyakan jadi apa?

Kerja di migas atau tambang, Kak, jawab saya. Ya karena setahu saya kebanyakan seperti itu. Ngkong juga mengiyakan, menurut dia, pattern itu terbentuk kurang lebih sejak angkatan tahun 2000-an. Ngkong sendiri setelah lulus juga kerja di perusahaan tambang dulu sebelum akhirnya menemukan passionnya. Ngkong nggak menyalahkan orang-orang yang memang punya cita-cita bekerja di industri migas atau tambang, semua orang punya pilihannya masing-masing. Tapi satu hal yang Ngkong katakan dan terus teringat oleh saya adalah,

"Bukan bermaksud takabur, tapi sebagai anak ITB, kemampuan kita insya Allah sudah melebihi  batas 'gimana biar bisa dapat makan'. Jadi harusnya yang lebih dipikirin adalah, 'karya apa yang bisa gw hasilkan?'"
Itu benar-benar menohok saya. Ngkong juga bercerita kalau di Finlandia, patternnya cukup unik. Mahasiswa yang lulus berebut menjadi guru. Hanya lulusan terbaik dari setiap universitas dan institut yang dapat menjadi guru. Negara Finlandia berhasil membentuk pattern yang tidak biasa. Jadi instead of menjadi karyawan yang menurut pada sistem, lulusan terbaik di  negara Finlandia akan menjadi orang yang memastikan bahwa warga negara Finlandia akan memperoleh pendidikan terbaik dari orang-orang terbaik pula.

Selain tertohok oleh Ngkong, saya juga masih teringat pesan alumni TL lainnya, Kak Sano. Waktu itu saya bertugas mewawancara beliau untuk ENVIRO 9. Kak Sano sendiri menurut saya adalah orang yang berani ambil resiko, dan resiko itu kini sudah berbuah manis. Pesan yang saya ingat dari Kak Sano waktu itu adalah,
"Kenapa coba kamu harus memilih kerja di perusahaan besar seperti S**********? Kamu tau nggak nama perusahaan itu asalnya adalah nama orang? Kenapa kamu nggak bikin perusahaan namanya Ica, gitu. Buka lapangan kerja untuk orang lain."
Setelah saya pikir-pikir, mungkin semua ini hanya tentang pattern. Jalan yang biasa diambil oleh orang-orang yang lulus. Jalan yang dianggap 'aman', yang memberikan kenikmatan: dapur ngebul, perut kenyang. Saya nggak bilang saya nggak mau ngikutin jalan aman itu, saya mungkin belum seberani Kak Sano. Tapi setidaknya saya tahu, bahwa hati saya sebenarnya menyetujui pendapat Ngkong dan Kak Sano. Hati saya lebih ingin berkarya, lebih ingin menempuh jalan-jalan yang 'nggak biasa', meskipun sayangnya, saya belum benar-benar tahu arahnya kemana.

Semoga di tingkat 4 ini ada petunjuk dari Yang Di Atas. Semoga idealisme saya dan pesan dari kakak-kakak saya tidak pernah luntur. Semoga apapun keputusan saya, tidak ada kata terlambat untuk berubah atau untuk memperbaiki. Semoga.

Share:

1 comments

  1. Aku sangat setuju dengan pendapatmu
    "believe your self"

    BalasHapus