Do it for yourself, not for others

Tugas Akhir, sesuatu yang menjadi momok bagi saya dan teman-teman angkatan 2009. Ini sudah hampir Agustus, 2 bulan menjelang wisuda Oktober. Semakin banyak yang lulus. Semakin banyak yang pacu mengerjakan TA. Semakin banyak juga yang mengalami tekanan batin.

Kalau diingat-ingat, dulu di awal semester 8, semangat dan idelisme mengerjakan tugas akhir itu berkobar banget.
"Gw maunya tugas akhir gw membahas A, B, C, ..."
"Gw ingin tugas akhir ini bermanfaat buat ..."
"Gw pengen wisuda Juli, biar bisa ..."
Masih ingat semua itu nggak? Semoga belum lupa.

Pada detik-detik menjelang akhir ini, rasanya saya harus mengingat-ingat lagi, kenapa saya dulu ingin membuat tugas akhir ini. Saya mungkin sudah lupa. Sekarang yang ada di depan mata hanya 'bagaimana caranya supaya bisa lulus Oktober?'

Target lulus kapan itu harus ada dan harus kita kejar. Dalam perjalanannya, mungkin tidak semua idelaisme kita bisa terealisasikan. Tapi selain semua itu, coba tanya diri sendiri: apakah selama mengerjakan tugas akhir ini saya sudah memberikan usaha yang terbaik?

Kenapa baru dipacu setelah mendekati Oktober? Kenapa dari dulu nggak mengerjakan sepenuh hati, dengan usaha maksimal? Kenapa baru dikerjakan setelah tertekan oleh waktu? Atau mungkin lebih buruk lagi - kenapa baru dikerjakan setelah tertekan gara-gara melihat teman yang lulus?

Masing-masing orang punya waktu yang tepat untuk lulus. Saya juga percaya itu. Tapi saya juga nggak bisa memungkiri keberadaan rasa senang-tapi-tertekan ketika melihat ada teman yang menyandang gelar sarjana. Kenapa?

Di Indonesia, budaya dan norma yang ada kadang menjebak kita dalam persepsi-persepsi tertentu. Misalnya, 'Seseorang belum sukses kalau belum ...' 'Orang yang lulus cepet itu berarti lebih ... dari yang lulus belakangan' 'Orang yang lulusnya telat itu berarti ..' dan seterusnya.

Ketika terbentur dengan persepsi-persepsi itu - secara sadar ataupun nggak sadar - ingatlah:
Perjalanan tugas akhir ini adalah milik kamu. Bukan milik orangtuamu, teman-temanmu, pakde, bude, tante, siapapun.

Your thesis is your own masterpiece (Mbak Mut, 2013).
Orang lain hanya bisa menyemangati atau menjudge, tapi yang tahu seperti apa perjalanan tugas akhir ini cuma kita. Tidak usah takut sama persepsi orang, harapan orang, dan semacamnya. As long as you do your best, you've got nothing wrong with it.

Sekarang, coba pikirkan: apakah usaha saya sudah maksimal dan sepenuh hati? Kalau sudah, berarti tinggal tunggu waktunya sampai semua yang dulu kamu sebut 'mimpi' dan 'cita-cita' itu tercapai. Sekarang, tinggal menyerahkan semuanya kepada sutradara hidup kita: Tuhan.

And remember: "No pressure, just nail it."



See you on finish line, 2009.

Share:

0 comments