What Goes Around, Comes Around

22.10.00


What(ever) goes around, comes around.
Prov. The results of things that one has done will someday have an effect on the person who started the events(McGraw-Hill Dictionary of American Idioms and Phrasal Verbs. © 2002 by The McGraw-Hill Companies, Inc.)

Ketika membaca judul tulisan ini, mungkin satu hal yang langsung terlintas dipikiran adalah karma. Dalam ajaran Islam, setahu saya, tidak ada ajaran mengenai karma, yang mana sebenarnya berasal dari ajaran agama Hindu. Terlepas dari kontroversinya, entah disebut karma atau takdir atau pembalasan atau apapun juga, saya sejujurnya selalu percaya dengan prinsip ini: what goes around, comes around.

Saya beberapa kali kecewa. Saya, yang hampir selalu ‘niat’ ketika memberi atau bekerja, seringkali dikecewakan dengan tanggapan dari pihak lain yang, bukannya memberi apresiasi, tapi malah bikin sakit hati. Sampai-sampai Papa saya jadi protektif sama saya kalau sudah urusan kerjaan atau perasaan, karena ketika saya peduli, saya nggak berpikir lagi – saya hanya ingin semuanya bagus, saya hanya ingin mereka bahagia.

Ketika ternyata apa yang saya berikan ternyata dibalas dengan sesuatu yang nggak enak, seperti semua orang normal pada umumnya, awalnya yang terbersit di kepala saya adalah “kenapa begini sih”, “nggak adil”, dan kadang sampai “semoga dia dapet balasannya suatu hari”. Meskipun awalnya ngedumel dan nyinyir, tapi sejujurnya saya nggak pernah sampai niat mendoakan seseorang untuk mengalami hal buruk yang sama dengan saya. Meskipun ada juga kasus yang mumetnya sampai kebawa mimpi selama berbulan-bulan, saya cuma minta satu sama Allah: ikhlas. That is only one word, but it was never been easy.

Seringkali seseorang bilang sudah memaafkan, tapi mengikhlaskan adalah hal yang berbeda. And I have to say, meskipun seseorang sudah memaafkan pun, ada beberapa kejadian tertentu yang nggak akan pernah bisa dilupakan. Karena itu, ketika kepala mulai dipenuhi lagi dengan pertanyaan-pertanyaan, dengan kebencian-kebencian lama, saya mencoba melihat dari sudut pandang lain: tidak akan belajar seseorang jika tidak ada cobaan hidup. Kegagalan, penolakan, pengkhianatan, hal-hal yang menyebalkan dan menyakitkan, adalah sebuah pelajaran yang suatu hari akan terlihat kegunaannya, kenapa dulu Allah membuat skenario hidup seperti itu untuk kita.

Tentang pembalasan, biarlah itu jadi urusan Tuhan. Karena di Islam pun diajarkan bahwa doa orang yang terzalimi itu pasti diijabah. Jadi, jangan meniatkan sesuatu karena dendam. Jangan memendam amarah lama dengan cita-cita melakukan pembalasan. Because eventually what goes around will comes around, and if you’re lucky, God will let you watch it.

You Might Also Like

0 comments