To My Dearest Bride-to-be

by - Mei 15, 2015


Saya mengenal Hanna sekitar 18 tahun yang lalu. Waktu itu kami sama-sama murid baru di TK B. Pertemanan sejak TK itu ternyata berlanjut terus seiring usia kami. Kami melewati fase tumbuh kembang bersama-sama: TK – SD – SMP – SMA di satu sekolah yang sama. Dari jaman nyanyi lagu AB Three sambil main ayunan sampai AB Three udah gonta ganti personil cenderung bubar, kami masih sahabatan.

Di masa kuliah, kami pun entah bagaimana masih menjaga komunikasi dengan baik layaknya masih satu sekolah dulu. Bukannya kami ansos main berdua terus. We did make friends with others. Saya kenalan sama teman-teman kuliah Hanna dan Hanna pun sempat main ke Bandung kenalan sama teman-teman main saya. Tapi pada satu-dua titik poin hidup, pasti kami akan mencari satu sama lain. Maybe because deep inside we know, whatever our case, we will never judge each other. And even if we do, we will say it directly - not behind each other's back.

Hubungan pertemanan kami cenderung opposite attract. Selera kami soal fashion, hobi, musik, cenderung beda. Saya suka baca, Hanna.. suka nonton sinetron (eh nggak ya? Suka kepoin orang aja deh :p). Saya suka banget makan ayam, Hanna takut banget sama ayam. Jaman sekolah, kalau kebagian ayam yang bagian sayap, pasti minta tukar, atau minta tolong saya potongin ayamnya biar nggak berbentuk sayap lagi. Kalau saya dari kecil udah jago bongkar kepala ayam sambil nonton tv, jangan harap Hanna mau makan kepala ayam deh. Liatnya aja mau nangis.

Karena berteman dari TK, tentunya kami tahu aib masing-masing dari kecil. Tahu juga sejarah percintaan masing-masing, dari jaman cinta monyet sampe cinta sama orang beneran.  Hapal masing-masing pernah ngefans sama siapa, pernah ngecengin siapa, pernah nyinyirin siapa. Dan, seperti kebanyakan sahabat, kami pun (sering) bertengkar. Jaman sekolah dulu, sering banget berantem karena masalah sepele. Berantemnya nggak jambak-jambakan kaya sinetron sih. Diem-dieman. Lucunya, meskipun berantem, kami masih sering solat dzuhur bareng pas istirahat sekolah. Terus baikannya akibat pinjam meminjam sisir pas solat. Apa banget kan? But that’s what you call true friend. We will never really hate each other.

Hanna adalah salah satu orang yang nggak lelah mendukung saya. Saya ini contoh orang yang kehidupan percintaannya tidak sehat cenderung menyedihkan. Menyikapi keadaan saya ini, Hanna nggak pernah bosan dengar saya curhat. Pernah sekali Hanna bilang, “Duh putus lagi, jangan kaya anak SMA doong.” Sejujurnya saya kezel, ini orang lagi berduka putus kok jahat amat dibilang anak SMA? Kan bukan mau aing putus? Mentang-mentang udah punya calon suami, huh! #Nyinyirsambilberderaiairmata #drama

But then again, saya sadar itu bukan karena Hanna bosan dengar curhat saya. Itu kritik membangun supaya saya nggak disini-sini aja, di lingkaran setan ini. Saya sadar karena setelah ngomong seperti itu pun, Hanna masih mau ngopi sambil denger curhat saya tentang kronologi putus yang kesekian kalinya ini.

Sementara saya sibuk belajar di negeri sakura, sahabat saya sudah menemukan pendamping hidupnya. Besok, Hanna akan menikah dengan Mas Wiedy. Waktu pertama dikenalkan Hanna dengan Mas Wiedy, sejatinya saya tidak punya feeling apa-apa soal hubungan mereka. Tapi setelah mengenal Mas Wiedy lebih baik, saya percaya bahwa Mas Wiedy bisa membuat sahabat saya bahagia (dan bisa membuat Hanna gendutan juga dengan wisata kuliner tiada akhir :p).

Meskipun tidak bisa hadir, melalui tulisan ini, saya mau ikut merayakan kebahagiaan sahabat saya dan mengucapkan selamat hari pernikahan untuk Hanna dan Mas Wiedy.

Dear Nenek dan Mas Wid,
selamat ya! Akhirnya setelah rangkaian perjuangan mulai dari nyicip makanan sampai cetak undangan, semua sudah terlewati. Salut sama kalian yang bisa urus segalanya berdua aja tanpa banyak campur tangan orang lain. Semoga kekompakkan kalian ini akan terus berlanjut di kehidupan rumah tangga nanti ya! Selamat hari pernikahan, may you both can make your own version of happily ever after.

Kiss & hugs,
Your Maid of Honor 

You May Also Like

1 komentar