How Does It Feel to Live in Kyoto?

Kembali dari Jepang ke Indonesia, beberapa kali pertanyaan di atas ditanyakan oleh teman dan keluarga. Karena tahu pertanyaan itu kadang hanya basa basi, saya cenderung menjawab dengan jawaban singkat, "Senang," atau "Betah." Tapi, kata "senang" dan "betah" sebenarnya hanyalah sekeping gambaran apa yang saya alami selama dua tahun menjadi mahasiswa master di salah satu kota paling cantik di Jepang, di mana saya bertemu banyak orang baik yang akhirnya saya anggap seperti keluarga sendiri.

Saya memulai kehidupan saya di Kyoto pada April 2015. Saat itu saya beruntung punya teman seperjalanan dari Indonesia ke Jepang: para mahasiswa penerima beasiswa Monbukagokusho. Datang ke negara yang rasanya budayanya sudah dekat dari sejak saya kecil, tidak berarti saya familiar dengan segala sesuatu yang ada di sini. Untuk memberikan rasa nyaman di Kyoto - mulai dari naik pesawat bareng, naik MK travel bareng, sampai akhirnya berpisah karena dua di antara kami lulus lebih dulu - saya bersyukur ada Rika, Wina, dan Pawpaw. Teman seangkatan yang ternyata setelah dua tahun berjalan tetap memiliki ikatan yang kuat. Kalian sukses menjadi comfort zone saya: teman begadang tesis, teman jalan-jalan, teman masak, teman berbagi yang selalu bisa diandalkan khususnya dikala lapar. Memikirkan kebersamaan bersama mereka lah yang sukses membuat saya mewek ketika akan meninggalkan Jepang. Kami nggak kesampaian berfoto berempat di hari wisuda saya dan Rika. Tapi nggak apa-apa, we still have stacks of photo collection don't we? *siap-siap banyak foto di bawah*
Edisi mau berangkat ke Jepang, Maret 2015
Edisi jalan-jalan perdana ke Uji, April 2015
Edisi summer, Juli 2015 
Edisi spring, April 2016
Edisi muka bengep akibat saya dan Rika mau pulang ke Indonesia, Maret 2017
Di awal kedatangan saya, bahasa Jepang saya sangat seadanya. Saya juga tidak sempat mengambil kelas bahasa Jepang karena kelas saya di semester 1 sangat padat. Lalu bagaimana saya bisa survive

Belajar bahasa Jepang kasual dari teman-teman Jepang saya. 

Di fakultas saya, dalam satu angkatan ada sekitar 35 mahasiswa Jepang dan 10 mahasiswa asing. Teman Jepang yang pertama dekat dengan saya adalah Akane Tsujita, Yutaro Niimi, dan Takabayashi Koki. Seiring berjalannya waktu, saya juga beberapa kali bermain dan masak bersama Yumika Yoshinaga dan Saholi Nishimura. Di Tsukuba, saya juga menghabiskan waktu bersama Nozomi Ishibai, penghibur di weekend masa internship saya yang sepi. Walau kadang bahasa Jepang yang mereka ajarkan 'terlalu kasual' (khususnya kalau datang dari dua nama cowok di atas), tapi sudah cukup membantu menambah vocabulary saya, membuat saya lebih berani bicara dalam bahasa Jepang (setidaknya ketika belanja di convenient atau department store).


Jadi tour guide Katsura untuk Akane dan Yutaro, Mei 2015
Sesi masak opor bersama Saholi dan Yumika, May 2016
Di atas Gunung Tsukuba bersama No-chan, Sep 2016
Wisuda bersama Koki, Maret 2017
Berkuliah di Jepang juga membuka mata saya pada isu-isu global. Tentang isu kepercayaan dan agama, tentang isu perempuan dan perannya di dunia, tentang keanekaragaman budaya dan tentang lingkungan. Saya biasa membicarakan topik-topik ini sama LaÿnaLaÿna adalah teman fakultas saya yang berasal dari Switzerland. Anaknya filosofis sekali, walau menjadi bagian dari lab policy namun tesisnya lebih mirip tesis anak jurusan filosofi. Dengan banyak ngobrol sama Laÿna, saya jadi terpacu untuk belajar lebih banyak tentang agama saya, tentang isu dunia, tentang banyak hal. Banyak yang bilang sulit untuk ngobrol sama Laÿna. Namun menurut saya, selama kita memahami betapa filosofisnya dia dan tidak mengambil hati segala sesuatu yang dia tanyakan sebagai personal matters, semua akan baik-baik saja.
Bersama Laÿna setelah perform Malam Indonesia
Lalu bagaimana dengan orang Indonesia lain di Kyoto?

Ada yang pernah bilang ke saya, ketika seseorang belajar di luar negeri, ada 2 pilihan: dia akan bergaul bersama teman Indonesia atau dia tidak mau bergaul bersama orang Indonesia karena berpikir kuliah di luar ya bergaulnya sama foreigners saja. Saya ternyata masuk kategori yang pertama.

Orang Indonesia di Kyoto, mulai dari saya datang sampai saya pulang, alhamdulillah asik-asik dan nggak banyak konflik. Parameter saya mengatakan ini karena mendengar cerita teman saya di belahan Jepang lainnya yang sepertinya tidak senyaman apa yang saya alami di Kyoto. Kalau dengar cerita teman saya ini, saya jadi sangat bersyukur dengan lingkungan orang Indonesia di Kyoto - di mana sebagian besar orang yang saya tahu saling menghormati pilihan hidup masing-masing tanpa banyak interupsi. Berbagi dan mengingatkan iya, tapi tidak sampai tahap nyinyir-nyinyiran atau musuhan karena perbedaan pilihan hidup. 

Di tahun pertama saya, saya banyak terbantu oleh Mbak Cita, senior yang sangat informatif tentang perkuliahan di fakultas saya. Datang ke hanami PPI 2015, saya berangkat bareng Kak Raga, senior saya di TL yang sebelum meninggalkan Kyoto mewariskan seabrek peralatan rumah tangga untuk saya. Di hanami tersebut saya juga bertemu cewek yang awalnya saya kira jutek namun kemudian menjadi dewi perjodohan baik hati yang mempertemukan saya sama calon suami: Dea. Tante ini sering mengingatkan saya soal ini-itu di perkuliahan, membimbing saya mencari apartemen, plus nggak pernah lupa membelikan saya kartu pos gotochi card setiap doi jalan-jalan. Terbaik deh pokoknya!


The best tante of the year
Teman-teman tahun pertama saya lainnya kebanyakan adalah anak exchange: Mbak Cici, Mbak Dwica, Nadhil, Oji. Selain mereka, saya juga berkenalan dengan Mbak Widha dan Mbak Ed yang keduanya pernah tinggal di Satsuki Dormitory tempat saya tinggal sebelum pindah ke apartemen. Bersama tiga nama pertama, saya banyak menghabiskan waktu bersama mempersiapkan Malam Indonesia 2015. Juga banyak makan-makan bersama! Pokoknya, paling bahagia kalau ada agenda makan-makan di Shugakuin, dorm tempat Mbak Cici, Mbak Dwica, Nadhil, dan Pawpaw tinggal.

Dari acara makan-makan di Shugakuin bahkan lahir sebuah grup line yang masih eksis sampai sekarang: Single Gathering. Maklum, grup RW Kyoto Shiga terlalu 'rapi' untuk diramaikan dengan celotehan singles Kyoto yang kadang postingannya beda tipis antara lucu dan desperate. Orang-orang di dalamnya yang meninggalkan warna di kehidupan saya di Kyoto ada Lauren, Gerry, Eunice, Iqbal, Mbak Rioz dan tim saman ICD 2016. Ada beberapa orang dalam hidup saya yang mana saya tidak berinteraksi terlalu sering, namun demikian saya tetap merasa nyaman setiap ngobrol dan bertemu dengan mereka. Nama-nama di atas pernah (dan masih!) masuk kategori tersebut.
The first single gathering: Idul Fitri, Juli 2015
Nabe Party, November 2015
The latest single gathering: New Year Eve, December 2016
Tim saman ICD, September 2016
Di tahun kedua, saya menemukan teman-teman dekat yang jadi teman main secara berkala. Berawal dari grup Japanese class yang sebenarnya merupakan grup samaran untuk mempersiapkan ulang tahun Rizky, orang-orang ini kemudian jadi anggota grup vlok - grup yang awalnya berniat bikin video blog tentang kehidupan di Kyoto namun karena satu dan lain hal akhirnya hanya kesampaian bikin satu video haha. Orang-orang di dalamnya adalah Amin, Tika, Bagas, Rosyad, Mas Wahyu, Gilang, Bagas, Indra, Dea, Pawpaw, Rika, Wina. Seiring waktu, Mas Andhika, Mas Hendy, Jefry, dan Dhiqa ikut bergabung. Orang-orang ini adalah tipe teman yang bisa diajak hura-hura, serius, dan susah bersama. Bisa diajak begadang mengerjakan thesis bareng-bareng sambil ngemil tanpa judgemental, bisa bahu membahu berbagi penderitaan (bentar lagi ada yang nulis buku #PerjuanganMendakiFuji), bisa diajak maskeran bareng, bisa juga saling menghibur dikala sedih ditinggal sebagian dari kami yang pulang lebih dulu. Kalau sedang ngumpul, obrolannya mulai dari remahan chiki macam artis mana yang gay mana yang nggak sampai akademis seperti urusan riset atau politik seperti kenapa Donald Trump menang pemilu (walau nyambung ke isu dan gosip Melania Trump setelahnya).
Ulang tahun Rizky, April 2016
Dea Host Club, Agustus 2016

Sesi makan untuk melupakan ICD sejenak, September 2016
Ulang tahun Rika bersama Arashi KW, Januari 2017
Wait, did I miss anyone?

Ah, Muthi! Muthi ini junior multitalented yang berperan banyak dalam hidup saya. Bersama Rosyad, Muthi membantu saya dan Rizky menyiapkan foto prewedding ala ala, berhasil memperoleh shot cantik yang menjadi obsesinya. Muthi juga partner jajan di convenient store, partner exploring cafes, dan partner blogging di WABISABI. Peran Muthi paling terakhir sebelum saya pulang adalah sebagai make up artist untuk wisuda saya dan Rika. Update saya terus cemilan kekinian di Lawson dan sekitarnya ya Mut. Writing this, I realize I really miss Japanese sweets! :'(
Bersama Muthi MUA andalan serba bisa dan Rika, Maret 2017
Terakhir, hari-hari saya di Kyoto tidak akan lengkap tanpa keberadaan calon pendamping hidup slash tamagochi piaraan kesayangan: Rizky Ramadhan. Saya kira hidup sendiri di Kyoto sudah menyenangkan, tapi bareng-bareng menjalaninya bersama Rizky ternyata lebih menyenangkan lagi :)

So if anyone asks, "How was living in Kyoto feels like?" 
I would say:
it felt really good because I had wonderful people around. 

Thank you for the last two years.
See you again soon, Kyoto.


Photo credit: Lots of photos here are taken by someone else that I couldn't exactly remember who. Some of the credit that I managed to remember are: 
Edisi spring April 2016 by Hendy Setiawan, Edisi muka bengep Maret 2017 by Muthia Khairunnisa,  & the latest photo with Rizky is taken by Rosyad Muhammad

Share:

0 comments