Tentang Sampah

16.10.00

Selamat Hari Peduli Sampah Nasional! #telatbanget

Halo, setelah cukup lama nggak menulis saya memutuskan untuk berbagi tentang isu lingkungan paling eksis: persampahan. Buat yang belum tahu, 21 Februari ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Sejatinya, sebagian besar tulisan ini dibuat pada 21 Februari, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya baru dipublikasikan hari ini.

Orang-orang terdekat saya sebagian besar sudah tahu kalau sejak kuliah sampai kerja sekarang, saya "akrab" sama sampah. Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul, kebanyakan seperti di bawah ini:

Seorang teman: "Ca, lo tugas akhir (TA) nya tentang apa?" | "Sampah di Bekasi." | "Terus lo ke Bantargebang gitu? Pantesan tambah item." #kezel
Supir taksi: "Neng, kerjanya di perusahaan apa?" | "Konsultan persampahan, Pak." | "Hah? Baru nemu saya perempuan cantik-cantik ngurusin sampah. Kalau di sinetron kan perempuan biasanya jijikan sama yang kotor-kotor gitu." | "Atulah Pak, sinetron drama gitu jangan dijadikan tolak ukur..."

Sebenarnya ada apa sih dengan sampah, sampai saya tertarik "berteman" sama doi?

Sebagian besar orang menghindari sampah: sampah itu bau, kotor, jorok. Asalnya dari berbagai sumber: barang yang sudah nggak dipakai, ya dibuang. Sisa makanan yang nggak habis, inginnya cepat-cepat masuk tempat sampah aja. Kertas-kertas kantor yang menuh-menuhin meja, mending dibersihkan dan langsung dihancurkan. Pokoknya, prinsip "Jagalah Kebersihan" dianut banget deh. Pernah terpikir nggak sih, kemana ya perginya sampah yang kita buang?

Menurut Data Kementerian Lingkungan Hidup pada 2008, muara sampah-sampah kita antara lain sebagai berikut:
68% masuk ke lahan urug di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) atau TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu)
10% dikubur selain di TPA/TPST
7% diolah dengan pengomposan
5% dibakar di tempat terbuka (open burning)
3% dibuang di sungai
6% dibuang/diolah dengan metode lainnya

Seperti apa sih, tempat yang disebut TPA/TPST itu? Memangnya sampah kita seberapa banyak di sana?

Ini dua contoh TPA yang "akrab" sama saya: TPST Bantargebang (muara sampah warga Jakarta) dan TPA Sumur Batu (muara sampah warga Bekasi).
TPST Bantargebang (Dok. Pribadi, 2014)
TPST Bantargebang (Dok. @BPBDJakarta)
TPA Sumur Batu (Dok. Pribadi, 2013)
Banyak ya, timbunan sampah kita?

Bantargebang dan TPA-TPA lainnya adalah muara dari sampah-sampah kita; dari rumah, kantor, mall, sekolah, kampus, dan berbagai fasilitas lainnya. Saya, sama seperti kebanyakan masyarakat pada umumnya, dulu tidak peduli kemana si sampah ini pergi. Baru paham setelah belajar ilmuny, dan akhirnya menyadari bahwa ada yang salah dengan sistem mencari solusi sampah dengan memindahkannya ke tempat lain.

Lalu, memangnya kenapa kalau sampah-sampah itu terus dibuang? Toh sudah ada fasilitasnya kan?
Ya, saat ini hampir di setiap kota-kota besar di Indonesia sudah ada fasilitas TPA/TPST untuk menampung sampah kota. TPA/TPST itu pun nampak kalem-kalem saja tidak penuh-penuh. FYI, TPST Bantargebang sudah beroperasi menampung sampah Jakarta sejak tahun 1989. Kebayang nggak, sudah seperti apa penurunan kualitas lingkungan wilayah Bantargebang yang sudah menampung sampah kita selama 26 tahun? Dan, kata siapa TPA/TPST tidak akan penuh? Pada tahun 2008 saja, sampah Jakarta selama 2 hari bisa menghasilkan tumpukan sampah setara 1 Candi Borobudur! (lihat perhitungannya di sini). Candi Borobudur sampah itu sekarang menumpang di kota tetangga, Bekasi. Dengan tingka konsumsi yang terus meningkat, kita pun semakin cepat menambah candi-candi sampah. Berapa banyak Candi Borobudur sampah lagi yang sanggup ditampung di lahan Bekasi? Kalau lahan Bekasi habis, sampah warga Jakarta akan dikemanakan ya?

Adanya Hari Peduli Sampah Nasional sendiri dicetuskan oleh pemerintah sejak terjadinya tragedi sampah pada 21 Februari 2005. Saat itu, terjadi longsor sampah besar di TPA Leuwigajah yang mengakibatkan tewasnya 147 orang warga penduduk sekitar. Akibat longsornya TPA tersebut, pada tahun 2005, warga kota Bandung tidak punya lahan untuk membuang sampahnya. Saat itu, Bandung bukan lagi menjadi kota Bunga, tapi kota Sampah. Sampah ada dimana-mana: di jalan, di perumahan, tergeletak tak terangkut.

Bandung Darurat Sampah 2005 (Sumber: sampahbandung.blogspot.com)
Hari Peduli Sampah Nasional dimaksudkan pemerintah untuk membuat masyarakat Indonesia aware bahwasanya isu persampahan adalah sesuatu yang urgent dan perlu dibenahi. Bukan hanya soal TPA penuh atau TPA longsor. Gara-gara sampah, Sungai Citarum, sumber air warga Jakarta, diberi gelar sebagai "The World's Dirtiest River" oleh Guardian.
Sungai Citarum (Dok. Daril Andrean)
Yap, yang rumahnya di Jakarta.. air di rumah kalian, hulunya seperti ini lho. Nggak heran, sekarang orang-orang kayanya jadi lebih mudah sakit ya? Gimana bisa sehat kalau tanahnya, airnya, udaranya, sudah tercemar?

Jadi, kita bisa apa dong, supaya sampah tidak mengancam kehidupan kita?
Jangan hanya menggerutu menyalahkan pemerintah yang tidak becus. Hei, pemerintah juga berusaha, lho. Kalau kalian punya solusi dan inovasi, sampaikanlah ke pemerintah. Tapi, untuk berkontribusi konkrit, mulailah dari diri sendiri. Banyak hal yang bisa kalian lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah kerusakan lingkungan karena sampah. This my sounds cliche, tapi prinsip 3R, 4R, 5R, 6R - apapun itu - memang sebaiknya diterapkan di keseharian. Saya pun sampai saat ini masih terus belajar untuk 'patuh' menerapkannya. Seperti apa sih contohnya?

1. Re-think: Think before you buy, think before you use

Biasakan untuk memikirkan ulang saat kita akan membeli atau menggunakan sesuatu. Benar-benar butuh atau hanya impulsif? Akan terpakai kah? Kalau membeli material jenis ini, kalau sudah tidak terpakai, bisa didaurulang nggak ya?

2. Reduce: Use less
  • Kurangi kertas yang kalian print jika tidak benar-benar butuh, manfaatkan dokumen softcopy.
  • Ganti kebiasaan menggunakan kantong plastik saat belanja dengan membiasakan bawa reusable bag atau shopping bag sendiri. Kalau belanjaan kita sedikit, bisa langsung dimasukkan ke tas juga. Jangan takut dituduh mencuri, kan punya bon belanjanya.
  • Biasakan bawa botol minum sendiri. Selain supaya lebih sehat (katanya sih minum air putih harus 8 gelas sehari), juga menghemat uang jajan kita yang kadang terpakai untuk beli air minum dalam kemasan karena haus di jalan.
3. Reuse: Give your waste a second life
  • Gunakan kertas di kedua sisinya. Salah ngeprint, jangan langsung dibuang. Bisa menghemat pembelian kertas juga lho.
  • Sumbangkan barang yang sudah tidak kalian gunakan untuk orang yang membutuhkan. Daripada jadi sampah, mungkin banyak lembaga-lembaga yang bisa memanfaatkan barang bekas kalian.
4. Recovery: Your waste is (still) valuable
Yuk, pilah sampah di rumah. Kenapa? Nanti kan diangkutnya dicampur lagi?  
Saat ini, sudah banyak pemulung, lapak, dan bandar sampah yang berperan sebagai "sektor informal", mengumpulkan sampah yang bernilai untuk didaur ulang. Ketika kalian memilah sampah kalian di rumah, material-material yang masih bernilai akan dapat didaurulang dengan baik. Contoh, ketika kalian memilah sampah sisa tulang ayam, potongan sayuran, kuah ikan dengan sampah kertas bekas skripsi, kalian mencegah sampah kertas bekas skripsi kalian terkontaminasi makanan. Ketika kertas sudah basah, lepek, dan bau, kertas itu tidak bisa didaurulang. Jadi, minimal pisahkanlah sampah makanan/sampah dapur dengan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, kardus, dan sebagainya. 

Lalu gimana dengan pengangkutannya?  
Kalian bisa menyumbangkan sampah anorganik ke pemulung setempat. Pasti ada aja kok, pemulung yang lewat di komplek. Atau, kadang abang pengangkut sampah kita juga memisahkan sampah yang masih bernilai. Kalian bisa tetap menyerahkan sampah anorganik yang sudah kalian pisah ke abang pengangkut sampah, asal diberitahu kepada beliau bahwa sampah yang ini sudah dipisah dan siap jual. Mereka pasti senang karena memudahkan mereka dalam mendapatkan rezeki. Mereka nggak harus mengorek-ngorek sampah kita, mencegah lingkungan kita dari sampah yang berserakan juga, kan.
Di sini, saya hanya menyebutkan beberapa alternatif yang mudah dilakukan sehari-hari. Pastinya, masih banyak inovasi pengelolaan sampah - melibatkan berbagai pemangku kepentingan: pemerintah, pihak swasta, dan lain-lain. Tapi, tentunya semua itu nggak akan berhasil tanpa perubahan perilaku dari kita, masyarakat, sumber dari semua sampah itu berasal. Bonus untuk kalian yang mau tahu lebih detail tentang pengelolaan sampah Jakarta, berikut ini adalah hasil riset Waste4Change mengenai sampah Jakarta. Semoga bisa membuka mata kalian untuk mau mulai berubah ya. Yuk, mulai belajar mengubah perilaku kita, demi kualitas hidup yang lebih baik!



You Might Also Like

4 comments

  1. menurut aku kerjaan nya icha kereeen.. soalnya kalo ga ada yang peduli soal lingkungan apalagi pengelolaan sampah, apa kabar dunia? hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. kyaaa dibilang keren sama blogger hijabers yang oke bingits hihihi. maacih ndah! ;)

      Hapus