Why Japan?

Pertanyaan di atas sering ditanyakan kepada saya oleh banyak orang, bahkan sepertinya lebih banyak ditanyakan oleh orang Jepang, seakan mereka heran kenapa saya mau-maunya datang ke negara mereka. Ada beberapa alasan kenapa saya memilih untuk menempuh master di Jepang, meskipun ada peluang yang lebih menarik di tempat lain. Oke, mari kita jabarkan satu persatu.

Saya sudah 'kenalan' sama Jepang sejak kecil
Generasi 90an pasti sependapat sama saya - masa kecil kami penuh dengan berbagai anime Jepang, dari Sailor Moon sampai Doraemon. Menonton anime sejak kecil membuat saya ingin merasakan bagaimana hidup seperti orang Jepang - ke sekolah pakai seragam sailor, makan semangka dimusim panas, dan lain-lain. Saya bukan otaku, tapi saya mengakui kalau saya korban kebudayaan Jepang yang ditanamkan lewat anime-anime.
Gang Usagi, idola hidup masa kecil
Merasakan 4 musim di Jepang adalah salah satu cita-cita hidup saya
Waktu pertama kali saya membuat daftar life goals - mimpi dan cita-cita hidup yang ingin dicapai - 'merasakan 4 musim di Jepang' adalah salah satunya. Kenapa harus 4 musim dan kenapa harus di Jepang? Karena untuk setiap musimnya, Jepang punya festival-festival yang pengen banget saya datangi semua! Ketika Juli lalu saya jalan-jalan di night festival Gion Matsuri pakai yukata sambil makan takoyaki, rasanya bahagia banget! Berasa hidup dalam anime.
Gion Matsuri
Lanskap kota yang nyaman
Ini sejatinya pandangan saya sebelum ke Jepang sih. Eh, sebenarnya masih berlaku selama saya masih di Kyoto, tapi langsung hilang begitu saya hidup di Kanto. Kalau melihat Jepang dari sisi Kyoto, pandangan saya ini mungkin benar. Kyoto, dengan segala ketradisionalannya, menyajikan infrastruktur dan fasilitas publik dikombinasikan dengan keindahan alam setempat yang memberikan ketenangan dan kenyamanan. Tapi Kanto? Yah.. 11-12 lah ya sama Jabodetabek. Meskipun pandangan saya tentang 'keseimbangan' ini sudah nggak segitunya lagi, tapi saya menghargai usaha Jepang yang punya ruang terbuka hijau (taman) yang terawat apik di hampir semua kota. Taman utama setiap kota bahkan sepertinya punya syarat minimum harus ada danau di tengahnya. Lumayan memberikan kesegaran di antara segala kepadatan hidup. Dan yang utama: nggak perlu bayar. Semuanya fasilitas publik, gratis.
Fasilitas publik favorit di Kyoto: Kamo River. Bisa nyebrang sungai loncat-loncat cantik!
Saya ingin belajar nilai-nilai yang baik dari masyarakat Jepang
Sebelum saya berangkat ke Jepang, saya melihat Jepang sebagai masyarakat yang punya nilai-nilai kuat yang sudah mengakar dalam masyarakatnya - sebagian baik dan sebagian tidak - dan saya ingin tahu lebih banyak tentang nilai-nilai yang mereka anut. Dengan hidup di Jepang, saya ingin belajar untuk mengurangi 'kefleksibelan' seperti yang sering dilakukan di Indonesia. Tentu saja bukan berarti saya ingin jadi pribadi yang kaku dan ketat atau pribadi yang less tolerance, tapi lebih kepada ingin menjadi pribadi yang lebih baik, mengkombinasikan toleransi yang saya punya sebagai orang indonesia dan disiplin yang saya pelajari dari orang Jepang. Btw, setelah tinggal di sini, saya belajar bahwa ternyata masyarakat Jepang punya berbagai problematika yang sangat menarik untuk didiskusikan. Every nation is not that perfect, after all.
Ojiisan yang sudah sepuh tapi masih kuat dayung perahu
Mau makan seafood lebih banyak (dan mengurangi daging)
Saya ada cita-cita pengen jadi pescetarian. Tenggat targetnya masih jauh sih, tapi dengan hidup di Jepang, saya berharap bisa mencicil niatan saya menuju cita-cita saya tadi. Karena katanya kan, masyarakat Jepang kebanyakan makannya seafood. Setelah tinggal di Jepang, memang sih, mereka makan seafood. Tapi sekarang ini sudah agak nggak sebooming itu ya restauran seafood (yang murah, kalau yang mahal sih banyak). Untungnya di grocery store  masih banyak dijual seafood, dari yang mentahan, semi-mentah siap makan, sampai yang dimasak dan disajikan dalam bento. Dan personally saya rasa masakan Jepang itu sehat banget! (Ternyata masakan Jepang itu world heritage lho) Suatu hari saya akan tulis tentang masakan Jepang, ya.
Kaisen-don, super sehat dan super enak
Jepang mendaurulang sampah
Meskipun ada kontroversi ini-itu, but yes, they do recycle. Mereka punya 6 undang-undang daur ulang sampah spesifik, mulai dari sampah elektronik rumah tangga (TV, kulkas, AC, mesin cuci) sampai sampah kontruksi. Mereka nggak hanya bikin undang-undang tapi nggak dijalanin - mereka benar-benar melaksanakan apa yang mereka tuangkan di undang-undang itu. Karena saya fokus karirnya berkaitan sama persampahan, kelebihan Jepang ini jadi nilai plus untuk saya pertimbangkan sebagai lokasi master saya. Meskipun orang Jepang sendiri bilang sistem daur ulang negara-negara EU lebih baik - dan memang iya - tapi saya tidak menyesal memilih kuliah di sini. Justru dari sistem Jepang yang kurang di sana-sini, saya belajar banyak.
Sampah Botol Plastik (PET) yang akan didaur ulang
Setelah dilihat-lihat, alasan saya memilih Jepang lebih banyak non-akademisnya daripada akademisnya ya? Tapi ini juga penting lho, dalam memilih lokasi sekolah. Sebaik-baiknya sebuah kampus, kalau kita nggak nyaman sama negaranya, bagaimana mau belajar? Saya bersyukur bisa sekolah di Jepang, merasakan perubahan musim di sini (sekarang masuk musim ketiga!), dan mengalami berbagai hal-hal baru yang saya percaya, semuanya akan ada manfaatnya suatu hari nanti.

Share:

0 comments