Harga Kedisiplinan

by - November 18, 2016

Akhir-akhir ini saya merasa hidup saya acak-acakan. Saya tidak mengatakan 'berantakan' karena kata ini rasanya terlalu kuat, seakan saya habis ditimpa musibah, padahal tidak. Saya bilang hidup saya acak-acakan karena saya merasa jadwal hidup saya acak - kerja harusnya siang, jadi kerja malam - menyita waktu saya untuk hal lain yang sebenarnya sudah saya komitmenkan untuk diri sendiri. Kenapa bisa begini? Saya tidak disiplin.

Sebagai seseorang yang semangat kerjanya lebih seperti energy spikes instead of constant flow, sebenarnya kerja jam berapapun seharusnya bukan jadi masalah. Tapi ketika saya memulai kerja sore hari, rasanya saya menyia-nyiakan waktu begitu banyak, tiba-tiba hari sudah gelap. Kemudian terpikir, daritadi ngapain aja sih?

Saya mencoba untuk membuat jam kerja untuk diri sendiri. Akhirnya saya langgar juga. Padahal kedisiplinan semacam ini sangat penting pada masa-masa tesis begini. Saya tidak ingat persis bagaimana saya mengerjakan skripsi dulu. Tapi seingat saya, saya selalu memulai pagi atau siang hari setelah makan. Kalaupun saya harus kerja malam, itu bukan karena saya memulainya di sore/malam hari, tapi karena saya memang sedang semangat sehingga memutuskan untuk lembur. Atau karena ada deadline.

Hal yang sama berlaku untuk jadwal saya menulis. Beberapa minggu terakhir, tidak ada postingan baru di blog ini. Padahal, sejak rutin mengisi kembali blog mulai agustus lalu, saya sudah bertekad untuk menaikkan jumlah posting - dari satu posting per bulan, satu posting per dua minggu, kemudian satu posting per minggu. Pertengahan Oktober menjadi masa yang terasa sangat asik untuk menulis - semangat itu begitu menggebu-gebu, rasanya tidak ingin berhenti. Postingan pun sudah meningkat jadi satu posting per minggu. Saat itu saya paksakan berhenti, karena saya harus mengerjakan hal lain: tesis. Yang tidak saya duga adalah ketika saya berhenti, ternyata sangat sulit untuk saya memulai lagi.

Sebenarnya, saya bukannya tidak menulis. Saya menulis 2-3 draft postingan blog. Satu draft sudah selesai. Tapi entah kenapa saya tidak punya hasrat untuk mempublikasikannya. Saya berdalih, mungkin energi menulis saya terserap pada hal lain: menulis tesis. Saya pun memutuskan untuk tidak mempublikasikan posting apa-apa 2 minggu terakhir. Sampai kemarin saya memaksakan diri untuk menulis.

Mungkin jika saya disiplin, bisa saja saya 'memaksa' untuk tetap menulis di waktu yang sudah saya jadwalkan. Karena katanya, setelah berhasil 'memaksa' diri untuk menulis, ide-ide itu akan mulai keluar dengan lebih mudah. Lagipula, sekali saya melanggar komitmen dengan diri sendiri, akan semakin mudah untuk saya melanggarnya kembali esok-esok hari. 

November ini semua terasa menumpuk dan saya tidak bisa mengatur waktu dengan baik karena saya tidak disiplin. Saya bicara sama Rizky soal ini, mengeluhkan ketidakdisiplinan diri sendiri yang membuat mood swing. Kemudian Rizky menyarankan, daripada memusingkan kerja malam atau pagi, bagaimana kalau fokus pada target saja? Terlepas dari jam kerja yang diatur sendiri, evaluasinya lebih kepada: apakah target hari ini tercapai? Nggak usah muluk-muluk, misalnya untuk tesis target 3 paragraf per hari. Menurut Rizky saya malah terlalu strict terhadap diri sendiri, tapi strictnya untuk hal yang kurang penting.

Kalau dipikir secara logika, iya sih. Saya memang fokusnya lebih ke OCD soal jadwal hidup daripada achievement saya. Setelah dipikir-pikir, saya sudah menghasilkan progress tesis yang lumayan - hanya saja perlu dipetakan lebih baik. Jadi seharusnya tidak ada alasan untuk menunda menulis blog karena khawatir progress tesis terhambat.

Mulai minggu depan, target saya per hari berubah: fokus pada hal-hal kecil yang bisa dicicil, daripada menargetkan hal besar dalam waktu sempit kemudian nggak kesampaian kemudian uring-uringan.
Untuk jam kerja, saya akan bagi beberapa shift dengan target kecil-kecil per shift. Sebelumnya saya pakai target achievement per minggu dan target jam kerja per hari, yang terasa tidak efektif karena akhirnya molor-molor sampai detik-detik terakhir (bahkan sering lewat deadline).
Saya juga akan mengusahakan bangun lebih pagi, supaya ada waktu me-time blogging atau me-time thesis sebelum berinteraksi sama orang-orang (hasil baca beberapa kebiasaan enterpreneur dan ibu-ibu kerja yang menerapkan hal ini supaya tetap punya waktu sama keluarga).

Semoga tidak hanya wacana dan semoga komitmen disiplin kali ini berhasil merapikan kembali hidup saya.

          "It's easier to hold your principal 100% of the time than it is to hold them 98% of the time." 
           (Clayton M. Christensen in Harvard Business Review - On Managing Yourself)

Wish me luck!

P.S. : Btw kalau kalian punya jam kerja yang diatur sendiri dan terasa efektif, mau dong dishare ke saya ;)

You May Also Like

0 komentar