Jakarta City Tour: Oranje Boulevard

Jalan-jalan dan berpetualang tidak harus keluar kota - ini prinsip saya dalam traveling. Seringkali orang-orang mengidentikkan definisi 'traveling' dengan bepergian ke destinasi alam: pantai, gunung, hutan, dan sebagainya. Saya menemukan bahwa saya adalah kebalikan dari paradigma itu: saya lebih suka jalan-jalan sebagai city tourist. Saya menikmati wisata berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya sambil mengamati kehidupan penduduk, mencoba makanan setempat, mempelajari budaya dan sejarah lokal. Partner city tour saya sejak zaman kuliah adalah Dohets. Dohets mengenalkan saya kepada sebuah komunitas Jakarta walking tour bernama Jakarta Good Guide, yang punya 15 paket walking tour dan 10 di antaranya sudah pernah diikuti Dohets (expert!). Kembali dari Jepang, saya belum sempat jalan-jalan menjelajahi kota lagi - biasanya jalan di Jakarta dari satu mall ke mall lainnya aja. Sampai suatu hari saya dan Dohets (disertai Bayu) dadakan memutuskan ikut walking tour nya Jakarta Good Guide pada 2 Juli, dengan tema Oranje Boulevard.

Kami berkumpul di Taman Suropati pukul 9 pagi. Saya, Dohets, dan Bayu masuk grup berisi 7 orang termasuk tour guide. Jumlah yang sedikit ini malah membantu karena kami jadi lebih mudah berinteraksi satu sama lain selama jalan-jalan. Karena di grup kami ada satu orang foreigner dari Jerman, penjelasan tur dilakukan campur dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Rute Oranje Boulevard yang akan kami lalui adalah sbb: Taman Suropati - Embassies of Friendly Countries - Metropole - Taman Diponegoro - Eijkmann Building - RSCM - University of Indonesia.

Perjalanan bermula dari sesi perkenalan di Taman Suropati. Dijelaskan bahwa nama taman ini diambil dari salah satu pahlawan Indonesia yang bernama Untung Suropati - walau tidak jelas mengapa nama beliau digunakan untuk taman ini. Pemandu menjelaskan sedikit sejarah tentang Suropati, yang ternyata dahulunya adalah seorang budak dari Bali yang diperkerjakan oleh kaum Belanda. Sejak kehadiran Suropati, pejabat Belanda tersebut merasa selalu beruntung, sehingga Suropati pun diberi nama "Untung Suropati".  Kini, Taman Suropati menjadi sebuah ruang publik untuk olahraga, untuk kegiatan komunitas, dan kegiatan lain sejenis. Ketika saya tiba, sedang ada grup yoga yang sedang berlatih.


Pemandu dari Jakarta Good Guide sedang membuka sesi walking tour kami
Berjalan dari Taman Surapati, kami menelusuri Jalan Diponegoro yang dulu dikenal sebagai Oranje Boulevard. Daerah Menteng di sekitar Jalan Diponegoro ini memang pada mulanya dibangun oleh Belanda sebagai pusat tinggal kaum 'berada'. Terlihat beberapa bangunan dengan arsitektur bergaya art deco ala Belanda masih dapat ditemukan di sepanjang jalanan ini. Bangunan-bangunan mewah tersebut kini sebagian besar menjadi rumah-rumah duta besar serta Kedutaan dari beberapa negara: Belgia, Palestina, Sri Lanka, dan lain-lain. Beberapa bangunan lainnya digunakan sebagai markas partai-partai besar Indonesia: PDI, PPP, dan MKGR (Partai Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong, asal muasal Partai Golkar).

Salah satu rumah yang kami lewati adalah rumah milik Adam Malik, wakil presiden Indonesia ke 3. Rumah Adam Malik ini dulu sempat menjadi museum yang menyimpan barang-barang bersejarah milik beliau. Namun karena museum tersebut dikelola secara mandiri oleh keluarga Adam Malik, tingginya biaya perawatan rumah tersebut memaksa pihak keluarga untuk menjualnya kepada pihak lain. Pihak yang membeli rumah tersebut adalah sebuah partai yang ketuanya juga pemilik sebuah stasiun TV. Yap, rumah tersebut dibeli oleh Harry Tanoe. What a shame! Seandainya ada subsidi untuk melestarikan rumah tersebut, pasti museum Adam Malik masih ada. Bagi saya pribadi, akan sangat menarik untuk mengunjungi rumah tinggal Pak Adam Malik sambil melihat-lihat koleksi bersejarah beliau.


Bekas Rumah Adam Malik
Selepas melewati rumah Adam Malik, rumah Duta Besar, dan markas Partai, kami melewati pinggir Pasar Surabaya - sebuah pasar barang antik di bilangan Cikini. Ternyata asal muasal pasar ini adalah dari kebutuhan penduduk sekitar Oranje Boulevard yang memiliki banyak koleksi barang antik dan perlu menjual koleksi yang sudah outdated secara berkala. Maka lahirlah Pasar Surabaya, yang sampai sekarang masih menjual berbagai koleksi barang antik dengan harga miring.

Dari Pasar Surabaya, kami lanjut berjalan dan beristirahat di Metropole. Metropole adalah nama yang diberikan oleh Belanda untuk bangunan yang kini menjadi semi-mall. Pada zaman orang tua saya, Metropole lebih dikenal sebagai Megaria - bioskop pertama di Jakarta. Presiden Soekarno mengganti nama Metropole menjadi Megaria untuk menghilangkan nama-nama kebelanda-belandaan setelah merdeka. Entah bagaimana, namanya kembali ke nama semula. Metropole pada zamannya sangat terkenal karena merupakan the one and only bioskop setempat. Selain itu, lokasinya yang dekat dengan Universitas Indonesia (UI) juga menjadikannya tempat nongkrong mahasiswa, sebelum UI pindah ke Depok. Kini, selain bioskop, Metropole juga dilengkapi dengan foodcourt dan salah satu coffee shop multinasional. Kami singgah sebentar di coffee shop tersebut untuk membeli minum setelah berjalan di bawah matahari Jakarta.


Setelah beristirahat, kami lanjut berjalan dan kemudian tiba di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM). Pelajaran penting hari ini: saya baru ngeh kalau RSCM dan RS Cipto adalah hal yang sama. Mungkin perlu sesi walking tour lebih banyak biar nggak malu-maluin begini ya haha. Anyway, RSCM merupakan rumah sakit pusat nasional (udah pusat, nasional pula), di mana katanya, kalau ada penyakit yang tidak bisa ditangani rumah sakit di daerah lain di Indonesia, pasien tersebut akan dikirim ke rumah sakit ini. Keren ya! It fits the title.

RSCM sendiri terdiri dari beberapa gedung. Gedung pertama yang menyambut kami adalah gedung baru yang sedang dikembangkan, kemudian lanjut Gedung Eijkman, terakhir gedung RSCM itu sendiri. Oh iya, di depan RSCM, ada taman kecil yang baru dibangun, bernama Taman Diponegoro.

Sambil lihat-lihat sekitar RSCM, pemandu menceritakan berbagai hal - mulai dari sejarah sampai cerita horor. Daripada mendengar desas desus cerita horor RSCM, saya lebih tertarik pada kepada Lembaga Eijkman. Karena teman saya Pawpaw pernah bekerja di sini, sedikit-banyak saya pernah mendengar cerita tentang lembaga penelitian biologi molekuler pertama di Indonesia ini. Terutama, tentang bagaimana direktur pribumi pertama Lembaga Eijkman yang bernama Achmad Mochtar dipancung oleh tentara Jepang karena dituduh memberikan vaksin tetanus tercemar kepada tentara Jepang yang saat itu terluka. Walau tidak ada bukti terkait tuduhan tersebut, Achmad Mochtar memilih menyerahkan diri untuk melindungi peneliti lainnya. Makam Achmad Mochtar tidak diketahui sampai pada 2010 namanya ditemukan di dokumen Institut Dokumentasi Perang di Amsterdam. Untuk yang ingin tahu lebih lanjut, coba cek di sini ya.


Photo: Bayu Prawiro
Selesai dari sekitar RSCM, tibalah kami di titik terakhir: Universitas Indonesia. Kini, UI Salemba katanya hanya digunakan oleh mahasiswa kedokteran pasca-sarjana. Arsitektur bangunannya tetap klasik. Sementara itu, tinggi di belakang bangunan klasik UI, berdiri sebuah gedung modern bertuliskan IMERI - Indonesian Medical Education and Research Institute. Perpaduan yang unik!

Dan, tibalah kami di penghujung walking tour. Sebagai catatan, tur ini bersifat pay as you like, jadi peserta dapat memberikan fee di akhir acara sesuai tingkat kebahagiaan dan kepuasan selama jalan-jalan. Overall, kami senang karena pemandunya ramah dan informatif, serta cerita sejarah yang disampaikan juga terasa seru karena tidak melulu textbook. Nggak kapok untuk ikut lagi! Thank you, Jakarta Good Guide!



Share:

0 comments