Medan, Day 2

22.46.00

Di hari kedua saya di Medan, saya nggak berkeliling kota. Hari ini saya dan Dini, ditemani dua orang teman kantor mama sebagai supir dan pemandu jalan, berangkat ke Danau Toba. Yeay!

Kedatangan saya ke Toba disambut hujan saat kami masih melihat Toba dari atas. Kami memutuskan untuk berhenti sebentar di sebuah warung dan menikmati pemandangan Toba. Dari sini kami melihat perahu yang menghampiri lokasi Batu Gantung, sebuah batu yang punya cerita sendiri berdasarkan mitos setempat.


Cloudy Toba from above

One word to describe toba: magnificent. Besarnya luar biasa. Dan indahnya pun luar biasa. Kalau melihat di peta, harusnya Pulau Samosir bisa terlihat dari sisi manapun anda berdiri di pinggir Toba. Namun kenyataannya, dari tempat saya berdiri, Pulau Samosir belum terlihat lho. Ternyata untuk mencapai pulau itu, butuh waktu 1,5 jam dengan perahu yang cukup besar dan muat banyak orang. Sayangnya saat itu saya tidak menginap dan hanya punya waktu terbatas, jadi nggak berkunjung kesana.

Lalu kalau ke Toba tapi nggak ke Samosir, ngapain dong?

Saya cukup bahagia dengan naik boat menuju Batu Gantung. Meskipun sebenarnya cukup mahal sih, naik boat 15 menit harus bayar IDR 200.000. Jauh lebih mahal daripada ke Samosir yang kata Dini hanya sekitar IDR 30000, karena perginya banyakan. Yah daripada nggak berlayar sedikitpun di Toba, gapapa deh. Saya juga mengunjungi tempat peristirahatan atau pembuangan - entah mana yang benar - Presiden Ir. Soekarno, yang terletak di tepi danau.


Toba view from my boat

Batu Gantung. Lihat batu yg kaya ekor? Itu mitosnya adalah penjelmaan gadis yang menolak dijodohin kemudian jadi batu.


Rumah Ir. Soekarno

Setelah puas foto-foto di objek-objek tadi, saya dibawa ke daerah Ajibata oleh Mas Pemandu (saya lupa namanya, maaf ya mas). Saya sempat bingung, ini mau dibawa kemana ya? Karena jalannya mengecil dan ke arah pegunungan. Pak Supir pun sebenarnya agak bingung dengan rute itu, karena beliau nggak tahu disana ada apa. Dan ternyata setelah sampai di ujung jalan yang nggak bisa dilewati mobil lagi, kami menemukan Rumah Adat Sumatra Utara! Rumah ini biasa disebut Ruma Batak. Setahu saya, rumah macam ini hanya ada di Pulau Samosir. Ternyata ada juga di tepian Danau Toba, bahkan ada yang versi jadulnya juga! Aaaa senang banget, meskipun nggak sempet ke Samosir, tapi bisa menemui rumah adat ini.


Ruma Batak jadul dan Ruma Batak baru di Ajibata

Lokasi rumah adat ini sebenarnya bukan sebagai tempat tujuan wisata, makanya saya rasa nggak banyak orang yang tahu kalau di daerah Ajibata masih ada Ruma Batak. Rumah ini terletak di belakang sebuah hotel kecil. Rumah itu sendiri di bagian belakangnya masih digunakan sebagai tempat tinggal oleh penduduk setempat. Pemiliknya berbaik hati mengizinkan kami berfoto dan melihat-lihat rumah tersebut. Sementara Ruma Batak kuno disebelahnya, sekarang sudah tidak digunakan lagi, namun masih dipertahankan keberadaannya.

Itulah petualangan saya di Toba dan sekitarnya. Oh iya, nama daerah di sekitar Danau Toba ini adalah Prapat. Untuk mencapai daerah ini, butuh 4 jam dari Kota Medan. Di perjalanan 8 jam pp itu saya sempat wisata kuliner dan beli oleh-oleh juga lho. Ini beberapa daftar tempat makanan yang saya kunjungi.

1. RM. Beringin Indah


Burung ruak-ruak goreng, seporsi isi 5 ekor, IDR 75000

Rumah Makan ini punya dua restauran yang letaknya cukup berdekatan. Yang satu terletak beberapa meter sebelum masuk Kota Pematang Siantar dan satu lagi terletak beberapa meter setelah masuk Kota Pematang Siantar. Di sini saya mencoba burung ruak-ruak yang terkenal di daerah situ. Selain pesan burung ruak-ruak, kami juga disuguhi sayur dan beberapa pilihan makanan lainnya macam di rumah makan padang. Burung ruak-ruak gorengnya enaaak! Apalagi kalau pake sambelnya, mantap.

Oh iya, ada kejadian bodoh di restauran ini. Ceritanya saya mau pesan burung buat dibungkus. Saya panggillah pelayan disitu, "Teh, teh, mau bungkus dong." Setelah beberapa kali manggil, saya baru mikir, kenapa ini orang nggak nengok-nengok ya?? Ah iya, ternyata saya dengan bodohnya memanggil mereka dengan bahasa sunda "Teteh", pantes aja nggak ada yang nengok. Kebiasaan di Bandung sih, hehehe.. Di sini mereka biasa dipanggil "Kakak", tapi dipanggil "Mbak" juga nengok kok.

2. Roti Ganda

Roti Ganda dan Selai Srikaya, IDR 15000

Nah ini adalah tempat roti tawar jadul di Kota Siantar. Terletak di ruko-ruko yang memenuhi tengah kota Siantar, Roti Ganda nggak pernah sepi pengunjung. Saat saya kesana, saya merasa tempat belanja kue di Bandung mah nggak ada apa-apanya dibanding toko roti ini. Bukan, bukan dari pilihan kuenya, tapi dari rebutan dan keramaiannya.

Jadi toko roti ini menjual roti tawar jadul yang bisa dioles dengan cream+mesis atau selai srikaya. Selain roti tawar biasa, ada juga roti tawar pandan. Bisa dioles di tempat atau dibawa pulang selainya, seperti request saya yang nggak pengen rotinya cepet basi. Tapi sih sebenarnya akan sangat lezat kalau roti itu langsung dioles dan dimakan saat panas, karena semua roti yang mereka sajikan fresh from the oven. Btw, kenapa saya pilih selai srikaya karena rekomendasi Dini yang bilang rasa srikayanya unik dan enak. Dan memang unik lho! Enak itu relatif, buat saya sih selainya enak tapi nggak seperti srikaya. Sangat jadul banget rasanya, jadi nggak pantas dicompare sama selai srikaya kalengan. Rasa khas dan unik ini memang jadi andalan Roti Ganda.

3. Kok Tong, Kopi Siantar
Salah satu yang terkenal dari Siantar adalah kopi. Tempat ngopi sejak 1925 ini saat saya datang isinya bapak-bapak semua. Pak Supir dan Mas Pemandu pengen ngopi, dan saya dibawa ke salah satu sudut ruko di tengah kota Siantar, tidak terlalu jauh dari Roti Ganda. Kebanyakan orang pesan kopi hitam, tapi saya sendiri nggak mood minum kopi saat itu. Saya hanya menemani mereka ngopi sambil sekalian take away bubuk kopi buat Papa di rumah. Mereka juga menjual bubuk kopi yang sudah di pack buat dibawa pulang lho, ada yang ukuran kecil dan besar, tinggal pilih aja :)

4. Mie Aceh Ring Road
Yang ini saya temui di Kota Medan. Saya lupa nih nama jalannya apa, pokoknya ada di sebuah jalan masuk komplek gitu. Jajanan malam dari Mie Aceh, Sate Padang, Kerang Rebus (sayang saya ga nyobain ini), ada di situ. Meskipun nggak begitu terkenal, tapi Pak Supir saya prefer mie aceh ini dibanding sebuah nama terkenal yang juga udah buka cabang di Jakarta. Yasudah, saya sih yang mana aja boleh asal enak :D

Kesalahan saya adalah memesan Mie Aceh kuah, karena rasanya pedeeeeees banget! Oh iya saya pesen yang komplit, jadi semua jenis topping ada disitu. Daging, telur, udang, cumi, macem-macem deh. Enak kok mienya, cuma ya itu tadi. Untuk makanan yang dimakan jam 10 malem, mungkin sebaiknya pesen yang goreng aja ya.

You Might Also Like

0 comments