The Second Family

by - Desember 25, 2013

Saya jarang (atau bahkan nggak pernah?) menulis tentang seseorang khusus di sebuah post di blog saya. Tapi saya merasa keluarga ini worth to write, untuk segala sesuatu yang telah mereka lakukan untuk saya.

Saya mengenal keluarga ini - setidaknya salah satu anggota keluarganya - sejak saya TK. Nama si bungsunya Astri. Teman saya main hantu-hantuan jaman TK B. Eh, ternyata papanya teman papa saya di kantor. Namanya Om Jonky. Waktu SD, I had this stupid accident at camp and I couldn't walk well karena keseleo. Om Jonky mengantar saya pulang sampai ke rumah, padahal rumah saya jauh dan rumah mereka tinggal ngesot dari tempat kemping yang dekat sekolah. Saya pernah main ke rumah mereka satu kali, waktu SD. Bertemu mamanya yang kue bikinannya enak, namanya Tante Mien. Somehow, saya meninggalkan buku saya di rumah mereka. Beberapa hari kemudian waktu saya ambil, yang menyerahkan buku ke saya adalah kakaknya Astri. Namanya Aswin.

Waktu SMP, saya sudah nggak ingat wajah si kakak. Entah bagaimana, I had this crush on him when I met him again. We are still in the same school - saya, Astri, dan Aswin. Saya nggak terlalu dekat sama Astri karena kami jarang satu kelas sejak SD sampai SMP. But since I had that crush, saya jadi dekat lagi sama Astri, and somehow teman-teman Astri yang kenal Aswin seneng banget mensupport saya, padahal waktu itu kondisinya adalah junior bertepuk sebelah tangan ke senior. Sinetron banget. Tapi berkat tim comblang yang semangat 45 itu, entah bagaimana, waktu SMA, saya nggak bertepuk sebelah tangan lagi. Kemudian Om Jonky sekeluarga pindah ke Bandung.

Tiga tahun LDR sama si sulung, saya jarang ketemu papa dan mamanya. Yet they still welcome me kapanpun saya datang ke Bandung. Ketika saya akhirnya kuliah di Bandung, orang tua saya menitipkan saya ke keluarga mereka. And they really took care of me

Kapanpun saya ingin istirahat dan melepas penat dari kalkulus dan teman-temannya, pintu rumah mereka selalu terbuka untuk saya. Ketika saya harus di Bandung saat semua teman-teman saya pulang ke Jakarta, rumah mereka adalah tempat bernaung.  Ketika saya sakit, saya diajak ke rumah Mang Ibing, saudaranya yang juga dokter, dikasih resep, dicarikan obat sampai menelpon ke berbagai apotik karena antibiotik saya yang langka. Saya diizinkan istirahat di rumah mereka, dirawat sampai sembuh, nggak peduli saya sekedar flu atau bahkan waktu tifus saya kumat. Ketika saya begadang nggak tidur demi laporan mekflu, paginya Tante Mien membuatkan roti lengkap dengan 'selai colek' - gaya makan roti ala saya, padahal saya hanya pernah menceritakannya sekali. Ketika saya ingin mencoba naik sepeda di Bandung, Astri dan Om Jonky menemani saya sepedahan 26km pp dari Margahayu sampai Dipatiukur. Ketika hubungan saya dan Aswin tidak ada kontak selama satu tahun lebih, selama itu mereka masih menerima kunjungan saya ke rumahnya dengan tetap welcome, menanyakan kabar saya, mengkhawatirkan saya yang menurut mereka kurusan.

Keluarga mereka menerima semua orang, semua teman Astri dan Aswin (yang kebanyakan 'abnormal'), dengan terbuka. Mereka bukan keluarga angelic banget yang perfect or something, bukan juga keluarga yang angelic di depan tapi nyinyir di belakang. They are simply, a small happy family. They are kind of people that will throw some jokes that will light up your day because it is genuinely funny. They will warm you and cheer you up when everything feels wrong in your life. They will protect you, in every way they can possibly do. They will listen, if you have anything to share - even if you share it in a drama-queen-way. 

By writing this post, I want to say thank you. Terima kasih, sudah menjaga saya, sudah menjadi keluarga kedua saya. You guys have no idea how much you mean to me. 

Terima kasih, Om Jonky, untuk menjadi seorang kepala keluarga yang begitu terbuka dan memberikan pandangan hidup yang luar biasa untuk anak-anaknya. Saya bahkan nggak bisa mengantar Om 'pulang' dan belum menjenguk sampai sekarang. Maaf ya, Om. I'll bring you the prettiest flower one day. Today is christmas and it's supposed to be your 66th birthday. Selamat ulang tahun ya Om. Hope you rest in peace there :')

Om Jonky, by Winny Astrini

You May Also Like

0 komentar