Jalan-jalan ke Jepang: Expect the Unexpected

by - Januari 28, 2018

Sebelum jalan-jalan ke Jepang, ada baiknya mengantisipasi beberapa hal supaya nggak ‘kaget’ atau merasa ‘rugi’ waktu sampai di sini. Terinspirasi dari komentar-komentar turis Indonesia yang saya temani selama di Jepang, here are 8 unexpected things you need to expect while traveling in Japan!

1. Your AirBnb room might be smaller than you thought



Sudah booking AirBnb yang terlihat cakep, tapi sampai sini: kok sempit ya? Setelah tinggal di Jepang, saya paham benar bahwa ruangan-ruangan apartemen di Jepang itu sangat compact - setiap sudutnya dimanfaatkan sedemikian rupa, menyisakan hanya beberapa petak ruang kosong untuk diisi. Karena itu, hati-hati kalau memilih apartemen AirBnb untuk menginap di Jepang. Ruangan standar single di Jepang itu berukuran sekitar 23m2 (13m2 ruang tidur dan 10m2 kamar mandi+dapur). Ukuran ini normalnya untuk satu orang, maksimal dua orang, tapi kadang ada host yang menerakan bahwa ukuran ini bisa menampung maksimal tiga orang - yang berakhir dengan kalian berdesakan bareng koper kalian. Note: jangan lupa perhitungkan koper kalian ketika pesan AirBnb, karena koper 28inch yang biasa dibawa orang Indonesia traveling ke Jepang akan susah dibuka di ruangan apato yang terbatas.

2. Your JR Pass might not worth the price when you use it for less than two shinkansen rides



Sebelum membeli JR Pass, ada baiknya kalian mempertimbangkan ini: apakah kalian akan naik shinkansen (kereta cepat) lebih dari satu kali? Kalau jawabannya iya, maka beli JR Pass adalah pilihan yang tepat. Jangan sampai kalian beli JR Pass karena berpikir dengan beli pass ini kalian nggak perlu bayar biaya transport lagi selama di Jepang ya. Sebagai hal yang perlu diperhatikan: JR Pass hanya berlaku untuk kereta dan bis milik perusahaan JR (Japan Railway). Sementara itu, kereta dan bis di Jepang nggak semuanya milik perusahaan JR, banyak perusahaan-perusahaan lain yang mengoperasikan transportasi publik dengan nama yang berbeda (contoh: Oedo Line di Tokyo, Keihan Line di Kyoto-Osaka). Selama kalian jalan-jalan, hampir dipastikan kalian akan butuh naik kereta/bis non-JR, karena nggak semua area dilayani oleh JR.

Jadi, belilah JR Pass jika dan hanya jika kalian naik Shinkansen lebih dari satu kali selama kalian di Jepang (misal kalian mau explore Osaka-Kyoto tapi penerbangan pp dari Tokyo atau misal kalian memang mau keliling Jepang). If not, the pass is not worth it.
Note: sekarang ada banyak tipe JR Pass, JR Pass yg dimaksud di sini adalah JR Pass Japan-wide.

3. Not all things in Japan are made in Japan


Beberapa kali menemani turis di Jepang, sebagian dari mereka - yang kebanyakan adalah orang tua - agak kaget ketika cari oleh-oleh: barangnya jejepangan tapi made in nya bukan made in Japan (biasanya made in negara panda). Jaman orang tua kita, mungkin barang-barang Jepang masih otentik made in Japan. Sayangnya, sekarang ini menemukan barang made in Japan memang cukup jarang, kalaupun ketemu, seringkali harganya mahal. Jadi kalau cari oleh-oleh di sini, jangan berekspektasi harus bawa yang made in Japan ya, kecuali kalau kalian bersedia mengeluarkan biaya lebih banyak.

4. You cannot get sakura, momiji, and snow all at the same time



Bagi sebagian orang hal ini mungkin sudah cukup jelas. Tapi nggak jarang, turis yang ke sini komentarnya begini: “coba ke sini pas sakura ya” atau “kayanya pas momiji (maple) di sini bagus banget ya” atau “kok kaya nggak ada apa-apa ya?”

Di Indonesia sekarang memang banyak tiket promosi ke Jepang, yang sebagian besar waktunya di bulan-bulan yang tidak populer. Jadi, kalau kalian memilih tiket murah di musim tidak populer seperti Desember-Februari waktu musim dingin, jangan heran kalau sampai di Jepang, pohon-pohonnya pada gundul dan udaranya dingin banget tapi salju belum tentu ada (terutama kalau kalian hanya mampir ke kota besar seperti Tokyo/Osaka/Kyoto).

Sementara itu, musim cantik seperti musim semi di mana ada sakura (April) atau musim gugur di mana ada momiji (November) itu adalah peak season, jadi biasanya tiket pesawat bisa dipastikan mahal. Tapi harga mahal itu ‘terbayar’ dengan pemandangan yang didapat di sini. 

5. When you choose an unpopular date to travel, it doesn't mean there will be no crowd in the touristy spot


Selain traffic dari turis mancanegara, hal lain yang perlu diperhatikan ketika merencanakan tanggal keberangkatan ke Jepang adalah hari libur warga lokal di Jepang. Pernah suatu kali, saya menemani turis Indonesia ke Fushimi Inari pada tanggal 2 Januari. Ternyata, penuh bangettt kaya lautan manusia! (Lihat foto di atas) Alhasil, boro-boro bisa foto di lorong torii (gate)nya fushimi inari yang iconic, bisa lewat dan keluar dari kerumunan manusia aja udah alhamdulillah.

Supaya kalian nggak failed foto, perlu diingat kalau ada 2 periode liburan orang Jepang yang biasanya menghasilkan unusual crowds: libur tahun baru (28 Desember - 4 Januari) dan Golden Week (29 April - 5 Mei). Libur tahun baru itu bagi orang Jepang ibaratnya seperti lebaran di Indonesia, di mana mereka yang kerja di ibukota pada pulang kampung ke rumah orang tuanya, kemudian menghabiskan waktu berdoa di kuil setempat. Sementara, Golden Week adalah rentetan libur nasional Jepang yang hampir mengambil periode satu minggu. Walau nggak seheboh pulang kampung, tapi masyarakat lokal Jepang biasanya tetap jalan-jalan ke touristy spot.

6. Not all Japanese food that you think you like in Indonesia will be the same here in Japan


Di Indonesia biasa makan sushi, sampai Jepang pengen makan sushi juga: tapi kok nggak ada banyak pilihan sushi roll kaya di Indonesia?

Sejak tinggal di Jepang, saya jadi sadar akan satu hal: bahwa masakan Jepang yang di Indonesia sudah dimodifikasi dan ‘diIndonesiakan’. Makanan Jepang aslinya simpel, nggak banyak bumbu. Sushinya didominasi nigiri sushi yang kebanyakan ikan mentah, instead of makimono sushi with cheese/abon/chilli sauce seperti yang ada di Indonesia. Ramennya hampir pasti menggunakan pork, nggak kaya di Indonesia yang justru jarang menemukan ramen non-halal. Makanan ‘aman’ buat muslim yang paling sering ditemukan kalau nggak soba, udon, tempura. Intinya, walau melalui kesimpelan masakannya Jepang bisa menghadirkan rasa yang original di lidah, rasa tersebut nggak selalu sesuai dengan lidah orang Indonesia yang terbiasa dengan aneka bumbu dan mecin. Saran: buat kalian yang memang lidahnya nggak bisa jauh-jauh dari makanan Indonesia, bawalah bon cabe atau sambal abc kemanapun kalian pergi, supaya nggak mengeluh makanannya terasa ‘hambar’ (tapi please jangan dipakai untuk makan sushi ya...).

7. You might not happy knowing the amount of the tax-free return after trying to spend 5,000 yen minimum amount



Di Jepang, ada privilege bagi turis untuk tidak membayar pajak setelah mencapai biaya minimum belanja sebesar ¥5000. Pajak di Jepang sendiri biasanya sebesar 8%. Beberapa turis bela-belain belanja sampai ¥5000 supaya tax-free. Misalnya tadinya mereka belanja ¥3000, tapi biar tax-free, ditambah-tambahin sebesar ¥2000. Tapi, tahu nggak berapa nilai tax-free yang diberikan kalau kalian belanja ¥5000? Hanya sebesar ¥400 saja. Nggak lucu kan, bela-belain nambah ¥2000 yen (sekitar Rp 240.000) demi dibebasin dari ¥400 (sekitar Rp 48.000)? Kecuali kalau kalian memang butuh belanja sampai ¥5000 atau lebih, tentunya tax-free ini jadi sebuah keuntungan. Asal jangan dibela-belain nambah belanjaan aja ya demi tax-free!

8. If your child (or you are) 15+, Disneyland might not satisfy you, but Disneysea/USJ does (especially for boys)



Ada tiga theme park terkenal di Jepang: Disneyland dan Disneysea di Tokyo, Universal Studio Japan (USJ) di Osaka. Disneyland dan Disneysea memang menarik karena embel-embel ‘Disney’; saya pun dulu pengen banget ke sini. Tapi, kalau kalian sudah dewasa, atau kalian punya anak cowok, mungkin kalian akan lebih cocok ke Disneysea/USJ instead of ke Disneyland.

Disneyland menurut saya agak terlalu ‘princess-y’, walau sebenarnya ada juga arena-arena seru non-princess. Arena mainnya juga lebih banyak yang cocoknya untuk anak-anak. Disneysea, menurut suami saya, arenanya lebih seru dari Disneyland karena mainannya lebih banyak yang untuk remaja dan dewasa. Tapi kalau disuruh memilih Disneysea dan USJ, suami saya bilang USJ is more worth it! Pengalaman ajak keponakan cowok (10 tahun), dia juga lebih excited di USJ daripada di Disneyland dan Disneysea. Personally, saya adalah fans hardcore Disney. Sayangnya, entah kenapa, suasana yang saya rasakan di Disneyland nggak se-cheerful dan se-exciting di USJ.  Meskipun ini semua balik lagi ke pilihan masing-masing: kalau memang mengincar photo spot di Disneyland, you are encouraged to go there! Tapi, kalau kalian ingin main arena yang seru, please go to Disneysea/USJ instead :)

Tips tambahan: bagi yang mau main lebih banyak dan mau memanfaatkan waktu semaksimal mungkin di theme park, lebih baik beli express pass daripada ngantri berkepanjangan (bisa sampai 2-3 jam per arena!). 

Closing Remarks
Saya rasa pasti masih banyak unexpected things yang bisa ditemukan di Jepang. Kalau kalian punya pengalaman jalan-jalan di Jepang dan bertemu unexpected things, don't hesitate to share to me in the comment below ya! Tidak menutup kemungkinan, saya akan buat versi kedua dari Expect the Unexpected ini, hehehe. Anyway, semoga 8 poin ini bisa membantu kalian yang mau jalan-jalan ke Jepang untuk lebih well-prepared!


You May Also Like

2 comments

  1. finally ada yang post beginian! penting banget iniiii........!!!! sama mau nambahin tentang makanan. Sejak tinggal di sini ketika pesanan disajikan (khususnya sashimi dan sushi) gue jadi tau manfaat setiap makanan yang ada di piring itu. Salah satunya adalah WASABI yang selama di Indonesia kita bebas milih pake atau tidak, sedangkan di sini biasanya untuk sashimi selalu disuguhkan. Why? karena manfaatnya itu sendiri sebagai ANTISEPTIC utk tubuh kita ketika memakan makanan mentah. How cool is that?!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiii aku baru tau tehh. Berarti emang udah dipikirin banget yaa sama mereka makanan apa jodohnya apa. Nggak semata-mata buat bikin pedes aja

      Hapus